Tuesday, February 28, 2023

Intoleransi Makanan

Intoleransi Makanan

No. ICPC-2 : D29 Digestive syndrome/complaint other No. ICD-10 : K90.4 Malabsorption due to intolerance Tingkat Kemampuan 4A


Masalah Kesehatan

Intoleransi makanan adalah gejala-gejala yang terjadi akibat reaksi tubuh terhadap makanan tertentu. Intoleransi bukan merupakan alergi makanan. Hal ini terjadi akibatkekurangan enzim yang diperlukan untuk mencerna makanan tertentu. Intoleransi terhadap laktosa gula susu, penyedap Monosodium Glutamat (MSG), atau terhadap antihistamin yang ditemukan di keju lama, anggur, bir,dan daging olahan. Gejala intoleransi makanan kadang-kadang mirip dengan gejala yang ditemukan pada alergi makanan.

Hasil Anamnesis

Gejala-gejala yang mungkin terjadi adalah tenggorokan terasa gatal, nyeri perut, perut kembung, diare, mual, muntah, atau dapat disertai kram perut.

Faktor predisposisi

Makanan yang sering menyebabkan intoleransi, seperti:

a. Terigu dan gandum lainnya yang mengandung gluten

b. Protein susu sapi

c. Hasil olahan jagung

d. MSG


Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan nyeri  tekan  abdomen, bising usus meningkat dan mungkin terdapat tanda-tanda dehidrasi. Pemeriksaan Penunjang : -

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis dan pemeriksaan fisik. Diagnosis Banding

Pankreatitis, Penyakit Chrons pada illeum terminalis, Sprue Celiac, Penyakit whipple, Amiloidosis, Defisiensi laktase, Sindrom Zollinger- Ellison, Gangguan paska gasterektomi, reseksi usus halus atau kolon

Komplikasi Dehidrasi


Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan dapat berupa

a. Pembatasan nutrisi tertentu

b. Suplemen vitamin dan mineral

c. Suplemen enzim pencernaan Rencana Tindak Lanjut

Setelah gejala menghilang, makanan yang dicurigai diberikan kembali untuk melihat reaksi yang terjadi. Hal ini bertujuan untuk memperoleh penyebab intoleransi.

 



Konseling dan Edukasi

Memberi edukasi ke keluarga untuk ikut membantu dalam hal pembatasan nutrisi tertentu pada pasien dan mengamati keadaaan pasien selama pengobatan.

Kriteria Rujukan

Perlu dilakukan konsultasi ke layanan sekunder bila keluhan tidak menghilang walaupun tanpa terpapar.


Peralatan Laboratorium rutin


Prognosis

Pada umumnya, prognosis tidak mengancam jiwa, namun fungsionam dan sanasionamnya adalah dubia ad bonam karena tergantung pada paparan terhadap makanan penyebab.


Referensi

Syam, Ari Fachrial. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi ke

4. Jakarta: FK UI. 2006. Hal 312-3. (Sudoyo, et al., 2006).


No comments:

Post a Comment

Manajemen Telusur

DOKUMEN TELUSUR POKOK Rencana Strategis ( Renstra )   >>>>>>>>>> View Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP) dan ...