Showing posts with label PPK. Show all posts
Showing posts with label PPK. Show all posts

Wednesday, March 1, 2023

Strongiloidiasis

Strongiloidiasis

No. ICPC II : D96 Worms/other parasites

No. ICD X : B78.9 Strongyloidiasis

Tingkat Kemampuan 4A


Masalah Kesehatan

Strongiloidiasis adalah penyakit kecacingan yang disebabkan oleh Strongyloides stercoralis, cacing yang biasanya hidup di kawasan tropik dan subtropik. Sekitar 100 juta orang diperkirakan terkena penyakit ini di seluruh dunia. Infeksi cacing ini bisa menjadi sangat berat dan berbahaya pada mereka yang dengan status imun menurun seperti pada pasien HIV/AIDS, transplantasi organ serta pada pasien yang mendapatkan pengobatan kortikosteroid jangka panjang.


Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

Pada infestasi ringan Strongyloides pada umumnya tidak menimbulkan gejala khas.

Gejala klinis

a. Rasa gatal pada kulit

b. Pada infeksi sedang dapat menimbulkan gejala seperti ditusuk- tusuk di daerah epigastrium dan tidak menjalar

c. Mual, muntah

d. Diare dan konstipasi saling bergantian Faktor Risiko

a. Kurangnya penggunaan jamban.

b. Tanah yang terkontaminasi dengan tinja yang mengandung larva Strongyloides stercoralis.

c. Penggunaan tinja sebagai pupuk.

d. Tidak menggunakan alas kaki saat bersentuhan dengan tanah. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

a. Timbul kelainan pada kulit “creeping eruption” berupa papul eritema yang menjalar dan tersusun linear atau berkelok-kelok meyerupai benang dengan kecepatan 2 cm per hari.Predileksi penyakit ini terutama pada daerah telapak kaki, bokong, genital dan tangan.

b. Pemeriksaan generalis: nyeri epigastrium.

Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan laboratorium mikroskopik: menemukan larva rabditiform dalam tinja segar, atau menemukan cacing dewasa Strongyloides stercoralis.

b. Pemeriksaan laboratorium darah: dapat ditemukan eosinofilia atau hipereosinofilia, walaupun pada banyak kasus jumlah sel eosinofilia normal.


Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Penegakan diagnosis dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan ditemukannya larva atau cacing dalam tinja.

Diagnosis Banding: - Komplikasi: -

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

a. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, antara lain:

1) Menggunakan jamban keluarga.

2) Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktifitas.

3) Menggunakan alas kaki.

4) Hindari penggunaan pupuk dengan tinja.

b. Farmakologi

1) Pemberian Albendazol menjadi terapi pilihan saat ini dengan dosis 400 mg, 1-2 x sehari, selama 3 hari, atau

2) Mebendazol 100 mg, 3 x sehari, selama 2 atau 4 minggu. Konseling dan Edukasi

Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, yaitu  antara lain:

a. Sebaiknya setiap keluarga memiliki jamban keluarga.

b. Menghindari kontak dengan tanah yang tercemar oleh tinja manusia.

c. Menggunakan sarung tangan jika ingin mengelola limbah/sampah.

d. Mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan aktifitas dengan menggunakan sabun.

e. Menggunakan alas kaki. Kriteria Rujukan: -

Pasien strongyloidiasis dengan keadaan imunokompromais seperti penderita AIDS


Peralatan

Peralatan laboratorium sederhana untuk pemeriksaan darah dan feses.

Prognosis

Pada umumnya prognosis penyakit ini adalah bonam, karena jarang menimbulkan kondisi klinis yang berat.

Referensi

a. Gandahusada, S. 2000. Parasitologi Kedokteran. Edisi ketiga. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

b. Ganesh S, Cruz RJ. Review Strongyloidiasis: a multifaceted diseases. Gastroenetrology & hepatology 2011;7:194-6. (Ganesh & Cruz, 2011)

c. King CH. Hookworms. In: Berhman RE, Kliegman RM, Arvin AM, editors. Nelson’s Tetxbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company; 2012. p.1000-1.


Taeniasis

Taeniasis

No. ICPC II : D96 Worms/other parasites

No. ICD X : B68.9 Taeniasis

Tingkat Kemampuan 4A


Masalah Kesehatan

Taeniasis adalah penyakit zoonosis parasiter yang disebabkan oleh cacing pita yang tergolong dalam genus Taenia (Taenia saginata, Taenia solium, dan Taenia asiatica) pada manusia.

Taenia saginata adalah cacing yang sering ditemukan di negara yang penduduknya banyak makan daging sapi/kerbau. Infeksi lebih mudah terjadi bila cara memasak daging setengah matang.

Taenia solium adalah cacing pita yang ditemukan di daging babi. Penyakit ini ditemukan pada orang yang biasa memakan daging babi khususnya yang diolah tidak matang. Ternak babi yang tidak dipelihara kebersihannya, dapat berperan penting dalam penularan cacing Taenia solium. Untuk T. solium terdapat komplikasi berbahaya yakni sistiserkosis. Sistiserkosis adalah kista  T.solium yang bisa ditemukan di seluruh organ, namun yang paling berbahaya jika terjadi di otak.


Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

Gejala klinis taeniasis sangat bervariasi dan tidak khas. Sebagian kasus tidak menunjukkan gejala (asimptomatis). Gejala klinis dapat timbul sebagai akibat iritasi mukosa usus atau toksin yang dihasilkan cacing. Gejala tersebut antara lain:

a. Rasa tidak enak pada lambung

b. Mual

c. Badan lemah

d. Berat badan menurun

e. Nafsu makan menurun

f. Sakit kepala

g. Konstipasi

h. Pusing

i. Pruritus ani

j. Diare Faktor Risiko

a. Mengkonsumsi daging yang dimasak setengah matang/mentah, dan mengandung larva sistiserkosis.

b. Higiene yang rendah dalam pengolahan makanan bersumber daging.

c. Ternak yang tidak dijaga kebersihan kandang dan makanannya.


Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

a. Pemeriksaan tanda vital.

b. Pemeriksaan generalis: nyeri ulu hati, ileus juga dapat terjadi jika cacing membuat obstruksi usus.

Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan laboratorium mikroskopik dengan menemukan telur dalam spesimen tinja segar.

b. Secara makroskopik dengan menemukan proglotid pada tinja.

c. Pemeriksaan laboratorium darah tepi: dapat ditemukan eosinofilia, leukositosis, LED meningkat.

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Diagnosis Banding:- Komplikasi: Sistiserkosis

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

a. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, antara lain:

1) Mengolah daging sampai matang dan menjaga kebersihan hewan ternak.

2) Menggunakan jamban keluarga.

b. Farmakologi:

1) Pemberian albendazol menjadi terapi pilihan saat ini dengan dosis 400 mg, 1 x sehari, selama 3 hari berturut- turut, atau

2) Mebendazol 100 mg, 3 x sehari, selama 2 atau 4 minggu. Pengobatan terhadap cacing dewasa dikatakan berhasil bila ditemukan skoleks pada tinja, sedangkan pengobatan sistiserkosis hanya dapat dilakukan dengan melakukan eksisi.


Konseling dan Edukasi

Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, yaitu  antara lain:

a. Mengolah daging sampai matang dan menjaga kebersihan hewan ternak

b. Sebaiknya setiap keluarga memiliki jamban keluarga. Kriteria Rujukan

Bila ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada sistiserkosis.


Peralatan

Peralatan laboratorium sederhana untuk pemeriksaan darah dan feses.

 



Prognosis

Prognosis pada umumnya bonam kecuali jika terdapat komplikasi berupa sistiserkosis yang dapat mengakibatkan kematian.

Referensi

a. Gandahusada, S. 2000. Parasitologi Kedokteran. Edisi ketiga. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

b. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 424 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengendalian Kecacingan.

c. King CH. Hookworms. In: Berhman RE, Kliegman RM, Arvin AM, editors. Nelson’s Tetxbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company; 2012. p.1000-1.


Skistosomiasis

Skistosomiasis

No. ICPC II : D96 Worm/outer parasite

No. ICD X : B65.9 Skistosomiasisunspecified

B65.2 Schistomiasis due to S. japonicum

Tingkat Kemampuan 4A



Masalah Kesehatan

Skistosoma adalah salah satu penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh cacing trematoda dari genus schistosoma (blood fluke). Terdapat tiga spesies cacing trematoda utama yang menjadi penyebab skistosomiasis yaitu Schistosoma japonicum, Schistosoma haematobium dan Schistosoma mansoni. Spesies yang kurang dikenal yaitu Schistosoma mekongi dan Schistosoma intercalatum. Di Indonesia spesies yang paling sering ditemukan adalah Schistosoma japonicum khususnya di daerah lembah Napu dan sekitar  danau Lindu di Sulawesi Tengah. Untuk menginfeksi manusia, Schistosoma memerlukan keong sebagai intermediate host. Penularan Schistosoma terjadi melalui serkaria yang berkembang dari host dan menembus kulit pasien dalam air. Skistosomiasis terjadi  karena reaksi imunologis terhadap telur cacing yang terperangkap dalam jaringan. Prevalensi Schistosomiasis di lembah Napu  dan  danau Lindu berkisar 17% hingga 37%.


Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

a. Pada fase akut, pasien biasanya datang dengan keluhan demam, nyeri kepala, nyeri tungkai, urtikaria, bronkitis, nyeri abdominal. Biasanya terdapat riwayat terpapar dengan air misalnya danau atau sungai 4-8 minggu sebelumnya, yang kemudian berkembang menjadi ruam kemerahan (pruritic rash).

b. Pada fase kronis, keluhan pasien tergantung pada letak lesi misalnya:

1) Buang air kecil darah (hematuria), rasa tak nyaman hingga nyeri saat berkemih, disebabkan oleh urinary schistosomiasis biasanya disebabkan oleh S. hematobium.

2) Nyeri abdomen dan diare berdarah biasanya disebabkan oleh intestinal skistosomiasis, biasanya disebabkan oleh S. mansoni, S. Japonicum juga S. Mekongi.

3) Pembesaran perut, kuning pada kulit dan mata disebabkan oleh hepatosplenic skistosomiasis yang biasanya disebabkan oleh S. Japonicum.


Faktor Risiko:

Orang-orang yang tinggal atau datang berkunjung ke daerah endemik di sekitar lembah Napu dan Lindu, Sulawesi Tengah dan mempunyai kebiasaan terpajan dengan air, baik di sawah maupun danau di wilayah tersebut.


Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

a. Pada skistosomiasis akut dapat ditemukan:

1) Limfadenopati

2) Hepatosplenomegaly

3) Gatal pada kulit

4) Demam

5) Urtikaria

Buang air besar berdarah (bloody stool)

b. Pada skistosomiasiskronik bisa ditemukan:

1) Hipertensi portal dengan distensi abdomen, hepatosplenomegaly

2) Gagal ginjal dengan anemia dan hipertensi

3) Gagal jantung dengan gagal jantung kanan

4) Intestinal polyposis

5) Ikterus Pemeriksaan Penunjang

Penemuan telur cacing pada spesimen tinja dan pada sedimen urin. Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan juga penemuan telur cacing pada pemeriksaan tinja dan juga  sedimen urin.

Diagnosis Banding: - Komplikasi:

a. Gagal ginjal

b. Gagal jantung


Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

a. Pengobatan diberikan dengan dua tujuan yakni untuk menyembuhkan pasien atau meminimalkan morbiditas dan mengurangi penyebaran penyakit.

b. Prazikuantel adalah obat pilihan yang diberikan karena dapat membunuh semua spesies Schistosoma. Walaupun pemberian single terapi sudah bersifat kuratif, namun pengulangan setelah 2 sampai 4 minggu dapat meningkatkan efektifitas pengobatan. Pemberian prazikuantel dengan dosis sebagai berikut:


Tabel 3.7. Dosis Prazikuantel

Spesies Schistosoma

Dosis Prazikuantel

S. mansoni, S. haematobium,

S. intercalatum

40 mg/kg  badan  per  hari  oral  dan

dibagi dalam dua dosis perhari.

S. japonicum, S. mekongi

60 mg/kg berat badan per hari oral

dan dibagi dalam tiga dosis perhari.


Rencana Tindak Lanjut

a. Setelah 4 minggu dapat dilakukan pengulangan pengobatan.

b. Pada pasien dengan telur cacing positif dapat dilakukan pemeriksaan ulang setelah satu bulan untuk memantau keberhasilan pengobatan.

Konseling dan Edukasi

a. Hindari berenang atau menyelam di danau atau sungai di daerah endemik skistosomiasis.

b. Minum air yang sudah dimasak untuk menghindari penularan lewat air yang terkontaminasi.

Kriteria Rujukan

Pasien yang didiagnosis dengan skistosomiasis (kronis) disertai komplikasi.

Peralatan

Peralatan laboratorium sederhana untuk pemeriksaan tinja dan sedimen urin (pada S.haematobium).


Prognosis

Pada skistosomiasis akut, prognosis adalah dubia ad bonam, sedangkan yang kronis, prognosis menjadi dubia ad malam.

 



Referensi

a. Gandahusada, S. 2000. Parasitologi Kedokteran. Edisi ketiga. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

b. Centers for Disease Control  and  Prevention.  Schistosomiasis. July 25, 2013. http://www.cdc.gov/parasites/schistosomiasis. (Center for Disease and Control, 2013)

c. World Health Organization. Schistosomiasis. July 25, 2013. http://www.who.int/topics/shcistosomiasis/end (World Health Organization, 2013)

d. Kayser, F.H., Bienz, K.A., Eckert, J., Zinkernagel, R.M. 2005. Schistosoma in Medical Microbiology. Germany. Thieme. Stutgart. (Kayser, et al., 2005)

e. Sudomo, M., Pretty, S. 2007. Pemberantasan Schistosomiasis di Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan. Vol. 35, No. 1.  (Sudomo & Pretty, 2007)

f. King CH. Hookworms. In: Berhman RE, Kliegman RM, Arvin AM, editors. Nelson’s Tetxbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company; 2012. p.1000-1.


Ankilostomiasis (Infeksi Cacing Tambang)

Ankilostomiasis (Infeksi Cacing Tambang)

No. ICPC II : D96 Worms/other parasites

No. ICD X : B76.0 Ankylostomiasis B76.1 Necatoriasis

Tingkat Kemampuan 4A


Masalah Kesehatan

Penyakit cacing tambang adalah suatu penyakit  yang  disebabkan oleh infestasi parasit Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Di Indonesia infeksi oleh N. americanus lebih sering dijumpai dibandingkan infeksi oleh A.duodenale. Hospes parasit ini adalah manusia, cacing ini menyebabkan nekatoriasis dan ankilostomiasis. Diperkirakan sekitar 576 – 740 juta orang di dunia terinfeksi dengan cacing tambang. Di Indonesia insiden tertinggi ditemukan terutama didaerah pedesaan khususnya perkebunan. Seringkali golongan pekerja perkebunan yang langsung berhubungan dengan tanah, mendapat infeksi lebih dari 70%. Dari suatu penelitian diperoleh bahwa separuh dari anak-anak yang telah terinfeksi sebelum usia 5 tahun, 90% terinfeksi pada usia 9 tahun. Intensitas infeksi meningkat sampai usia 6-7 tahun dan kemudian stabil.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan Migrasi larva

a. Sewaktu menembus kulit, bakteri piogenik dapat terikut masuk pada saat larva menembus kulit, menimbulkan rasa gatal pada kulit (ground itch). Creeping eruption (cutaneous larva migrans), umumnya disebabkan larva cacing tambang yang berasal dari hewan seperti kucing ataupun anjing, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan oleh larva Necator americanus ataupun Ancylostoma duodenale.

b. Sewaktu larva melewati paru, dapat terjadi pneumonitis, tetapi tidak sesering oleh larva Ascaris lumbricoides.

Cacing dewasa

Cacing dewasa umumnya hidup di sepertiga bagian atas usus halus dan melekat pada mukosa usus. Gejala klinis yang sering terjadi tergantung pada berat ringannya infeksi; makin berat infeksi manifestasi klinis yang terjadi semakin mencolok seperti :

a. Gangguan gastro-intestinal yaitu anoreksia, mual, muntah, diare, penurunan berat badan, nyeri pada daerah sekitar duodenum, jejunum dan ileum.

b. Pada pemeriksaan laboratorium, umumnya dijumpai anemia hipokromik mikrositik.

c. Pada anak, dijumpai adanya korelasi positif antara infeksi sedang dan berat dengan tingkat kecerdasan anak.

Bila penyakit berlangsung kronis, akan timbul gejala anemia, hipoalbuminemiadan edema. Hemoglobin kurang dari 5 g/dL dihubungkan dengan gagal jantung dan kematian yang tiba-tiba. Patogenesis anemia pada infeksi cacaing tambang tergantung pada 3 faktor yaitu:

a. Kandungan besi dalam makanan

b. Status cadangan besi dalam tubuh pasien

c. Intensitas dan lamanya infeksi Faktor Risiko

a. Kurangnya penggunaan jamban keluarga

b. Kebiasaan menggunakan tinja sebagai pupuk

c. Tidak menggunakan alas kaki saat bersentuhan dengan tanah

d. Perilaku hidup bersih dan sehat yang kurang.


Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Gejala dan tanda klinis infestasi cacing tambang bergantung pada jenis spesies cacing, jumlah cacing, dan keadaan gizi penderita.

Pemeriksaan Fisik

a. Konjungtiva pucat

b. Perubahan pada kulit (telapak kaki) bila banyak larva yang menembus kulit, disebut sebagai ground itch.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan mikroskopik pada tinja segar ditemukan telur atau larva atau cacing dewasa.


Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis


Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Klasifikasi:

a. Nekatoriasis

b. Ankilostomiasis Diagnosis Banding: -

Komplikasi: anemia, jika menimbulkan perdarahan.


Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

a. Memberi pengetahuan kepada masyarakat akan pentingnya kebersihan diri dan lingkungan, antara lain:

1) Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga.

2) Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk

3) Menggunakan alas kaki, terutama saat berkontak dengan tanah.

b. Farmakologis

1) Pemberian Pirantel pamoat dosis tunggal  10  mg/kgBB, atau

2) Mebendazole 100 mg, 2 x sehari, selama 3 hari berturut- turut, atau

3) Albendazole untuk anak di atas 2 tahun 400 mg, dosis tunggal, sedangkan pada anak yang lebih kecil diberikan dengan dosis separuhnya. Tidak diberikan pada wanita hamil. Creeping eruption: tiabendazol topikal selama 1 minggu. Untuk cutaneous laeva migrans pengobatan dengan Albendazol 400 mg selama 5 hari berturut-turut.

4) Sulfasferosus Konseling dan Edukasi

Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, yaitu  antara lain:

a. Sebaiknya masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga. Sehingga kotoran manusia tidak menimbulkan pencemaran pada tanah disekitar lingkungan tempat tinggal kita.

b. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk.

c. Menghindari kontak dengan tanah yang tercemar oleh tinja manusia.

d. Menggunakan sarung tangan jika ingin mengelola limbah/sampah.

e. Mencuci tangan sebelum dan setelah melakukkan aktifitas dengan menggunakan sabun dan air mengalir.

f. Menggunakan alas kaki saat berkontak dengan tanah. Kriteria Rujukan: -

Peralatan

a. Peralatan laboratorium mikroskopis sederhana untuk pemeriksaan spesimen tinja.

b. Peralatan laboratorium sederhana untuk pemeriksaan darah rutin.


Prognosis

Penyakit ini umumnya memiliki prognosis bonam, jarang menimbulkan kondisi klinis yang berat, kecuali terjadi perdarahan dalam waktu yang lama sehingga terjadi anemia.


Referensi

a. Gandahusada, S. 2000. Parasitologi Kedokteran. Edisi ketiga. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. (Gandahusada, 2000)

b. Written for World Water Day. 2001. Reviewed by staff and experts from the cluster on Communicable Diseases (CDS) and Water, Sanitation and Health unit (WSH), World Health Organization (WHO).

c. King CH. Hookworms. In: Berhman RE, Kliegman RM, Arvin AM, editors. Nelson’s Tetxbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company; 2012. p.1000-1.


Askariasis (Infeksi Cacing Gelang)

Askariasis (Infeksi Cacing Gelang)

No. ICPC II : D96 Worms/ other parasites No. ICD X : B77.9 Ascariaris unspecified Tingkat Kemampuan 4A


Masalah Kesehatan

Askariasis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infestasi parasit Ascaris lumbricoides.

Di Indonesia prevalensi askariasis tinggi, terutama pada anak. Frekuensinya antara 60-90%. Diperkirakan lebih dari 1 milyar orang di dunia terinfeksi Ascaris lumbricoides.

Hasil Anamnesis(Subjective) Keluhan

Nafsu makan menurun, perut membuncit,  lemah,  pucat,  berat badan menurun, mual, muntah.

Gejala Klinis

Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan migrasi larva.

Gangguan karena larva biasanya terjadi pada saat larva  berada diparu. Pada orang yang rentan, terjadi perdarahan kecil  pada dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru yang  disertai dengan batuk, demam, dan eosinofilia. Pada foto thoraks tampak infiltrat yang menghilang dalam waktu 3 minggu. Keadaan ini disebut sindroma Loeffler.

Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya ringan, dan sangat tergantung dari banyaknya cacing yang menginfeksi di usus. Kadang-kadang penderita mengalami gejala gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare, atau konstipasi.

Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi malabsorpsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi. Gejala klinis yang paling menonjol adalah rasa tidak enak di perut, kolik akut pada daerah epigastrium, gangguan selera makan, mencret. Ini biasanya terjadi pada saat proses peradangan pada dinding usus. Pada anak kejadian ini bisa diikuti demam. Komplikasi yang ditakuti (berbahaya) adalah bila cacing dewasa menjalar ketempat lain (migrasi) dan menimbulkan gejala akut. Pada keadaan infeksi yang berat, paling ditakuti bila terjadi muntah cacing, yang akan dapat menimbulkan komplikasi penyumbatan saluran nafas oleh cacing dewasa. Pada keadaan lain dapat terjadi ileus oleh karena sumbatan  pada  usus oleh massa cacing, ataupun apendisitis sebagai akibat masuknya cacing ke dalam lumen apendiks. Bisa dijumpai penyumbatan ampulla Vateri ataupun saluran empedu dan terkadang masuk ke jaringan hati.

Gejala lain adalah sewaktu masa inkubasi dan pada saat cacing menjadi dewasa di dalam usus halus, yang mana hasil metabolisme cacing dapat menimbulkan fenomena sensitisasi seperti urtikaria, asma bronkhial, konjungtivitis akut, fotofobia dan terkadang hematuria. Eosinofilia 10% atau lebih sering pada infeksi dengan Ascaris lumbricoides, tetapi hal ini tidak menggambarkan beratnya penyakit, tetapi lebih banyak menggambarkan proses sensitisasi dan eosinofilia ini tidak patognomonis untuk infeksi Ascaris lumbricoides.

Faktor Risiko

a. Kebiasaan tidak mencuci tangan.

b. Kurangnya penggunaan jamban.

c. Kebiasaan menggunakan tinja sebagai pupuk.

d. Kebiasaan tidak menutup makanan sehingga dihinggapi lalat yang membawa telur cacing


Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

a. Pemeriksaan tanda vital

b. Pemeriksaan generalis tubuh: konjungtiva anemis, terdapat tanda-tanda malnutrisi, nyeri abdomen jika terjadi obstruksi.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang untuk penyakit ini adalah dengan melakukan pemeriksaan tinja secara langsung. Adanya telur dalam tinja memastikan diagnosis Askariasis.


Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Penegakan diagnosis dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan ditemukannya larva atau cacing dalam tinja.

Diagnosis Banding: jenis kecacingan lainnya Komplikasi: anemia defisiensi besi Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

a. Memberi pengetahuan kepada masyarakat akan pentingnya kebersihan diri dan lingkungan, antara lain:

1) Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir

2) Menutup makanan

3) Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga

4) Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk

5) Kondisi rumah dan lingkungan dijaga agar tetap bersih dan tidak lembab.


b. Farmakologis

1) Pirantel pamoat 10 mg/kg BB/hari, dosis tunggal, atau

2) Mebendazol, dosis 100 mg, dua kali sehari, diberikan selama tiga hari berturut-turut, atau

3) Albendazol, pada anak di atas 2 tahun dapat diberikan 2 tablet (400 mg) atau 20 ml suspensi, dosis tunggal. Tidak boleh diberikan pada ibu hamil

Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau secara masal pada masyarakat. Syarat untuk pengobatan massal antara lain:

a. Obat mudah diterima dimasyarakat

b. Aturan pemakaian sederhana

c. Mempunyai efek samping yang minimal

d. Bersifat polivalen, sehingga dapat berkhasiat terhadap beberapa jenis cacing

e. Harga mudah dijangkau

 

Konseling dan Edukasi

Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, yaitu  antara lain:

a. Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga. Sehingga kotoran manusia tidak menimbulkan pencemaran pada tanah disekitar lingkungan tempat tinggal kita.

b. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk.

c. Menghindari kontak dengan tanah yang tercemar oleh tinja manusia.

d. Menggunakan sarung tangan jika ingin mengelola limbah/sampah.

e. Mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan aktifitas dengan menggunakan sabun dan air mengalir.

f. Kondisi rumah dan lingkungan dijaga agar tetap bersih dan tidak lembab.

Kriteria Rujukan: -


Peralatan

Peralatan laboratorium mikroskopik sederhana untuk pemeriksaan spesimen tinja.


Prognosis

Pada umumnya prognosis adalah bonam, karena jarang menimbulkan kondisi yang berat secara klinis.


Refensi

a. Gandahusada, S. 2000. Parasitologi Kedokteran. Edisi ketiga. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. (Gandahusada, 2000)

b. Written for World Water Day. 2001. Reviewed by staff and experts from the cluster on Communicable Diseases (CDS) and Water, Sanitation and Health unit (WSH), World Health Organization (WHO).

c. King CH. Hookworms. In: Berhman RE, Kliegman RM, Arvin AM, editors. Nelson’s Tetxbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company; 2012. p.1000-


Parotitis

Parotitis

No. ICPC-2 : D71. Mumps / D99. Disease digestive system, other

No. ICD-10 : B26. Mumps


Tingkat Kemampuan 4A

Masalah Kesehatan

Parotitis adalah peradangan pada kelenjar parotis. Parotitis dapat disebabkan oleh infeksi virus, infeksi bakteri, atau kelainan autoimun, dengan derajat kelainan yang bervariasi dari ringan hingga berat. Salah satu infeksi virus pada kelenjar parotis, yaitu parotitis mumps (gondongan) sering ditemui pada layanan tingkat pertama dan berpotensi menimbulkan epidemi di komunitas. Dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dapat berperan menanggulangi parotitis mumps dengan melakukan diagnosis dan tatalaksana yang adekuat serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap imunisasi, khususnya MMR.


Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

a. Parotitis mumps

1) Pembengkakan pada area di depan telinga hingga rahang bawah

2) Bengkak berlangsung tiba-tiba

3) Rasa nyeri pada area yang bengkak

4) Onset akut, biasanya < 7 hari

5) Gejala konstitusional: malaise, anoreksia, demam

6) Biasanya bilateral, namun dapat pula unilateral

b. Parotitis bakterial akut

1) Pembengkakan pada area di depan telinga hingga rahang bawah

2) Bengkak berlangsung progresif

3) Onset akut, biasanya < 7 hari

4) Demam

5) Rasa nyeri saat mengunyah

c. Parotitis HIV

1) Pembengkakan pada area di depan telinga hingga rahang bawah

2) Tidak disertai rasa nyeri

3) Dapat pula bersifat asimtomatik

d. Parotitis tuberkulosis

1) Pembengkakan pada area di depan telinga hingga rahang bawah

2) Onset kronik

3) Tidak disertai rasa nyeri

4) Disertai gejala-gejala tuberkulosis lainnya

5) Parotitis autoimun (Sjogren syndrome)

6) Pembengkakan pada area di depan telinga hingga rahang bawah

7) Onset kronik atau rekurens

8) Tidak disertai rasa nyeri

9) Dapat unilateral atau bilateral

10) Gejala-gejala Sjogren syndrome, misalnya mulut  kering, mata kering

11) Penyebab parotitis lain telah disingkirkan Faktor Risiko

a. Anak berusia 2–12 tahun merupakan kelompok tersering menderita parotitis mumps

b. Belum diimunisasi MMR

c. Pada kasus parotitis mumps, terdapat riwayat adanya penderita yang sama sebelumnya di sekitar pasien

d. Kondisi imunodefisiensi

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan umum dapat bervariasi dari tampak sakit ringan hingga berat

b. Suhu meningkat pada kasus parotitis infeksi

c. Pada area preaurikuler (lokasi kelenjar parotis), terdapat:

1) Edema

2) Eritema

3) Nyeri tekan (tidak ada pada kasus parotitis HIV, tuberkulosis, dan autoimun)


Gambar  3.2 Edema pada area preaurikuler dan mandibula kanan pada kasus parotitis mumps


d. Pada kasus parotitis bakterial akut, bila dilakukan masase kelanjar parotis dari arah posterior ke anterior, nampak saliva purulen keluar dari duktur parotis.

Pemeriksaan Penunjang

Pada kebanyakan kasus parotitis, pemeriksaan penunjang biasanya tidak diperlukan. Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk menentukan etiologi pada kasus parotitis bakterial atau parotitis akibat penyakit sistemik tertentu, misalnya HIV, Sjogren syndrome, tuberkulosis.

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis parotitis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Komplikasi

a. Parotitis mumps dapat menimbulkan komplikasi berupa: Epididimitis, Orkitis, atau atrofi testis (pada laki-laki), Oovaritis (pada perempuan), ketulian, Miokarditis, Tiroiditis, Pankreatitis,

Ensefalitis, Neuritis

b. Kerusakan permanen kelenjar parotis yang menyebabkan gangguan fungsi sekresi saliva dan selanjutnya meningkatkan risiko terjadinya infeksi dan karies gigi.

c. Parotitis autoimun berhubungan dengan peningkatan insiden limfoma.


Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

a. Parotitis mumps

1) Nonmedikamentosa

a) Pasien perlu cukup beristirahat

b) Hidrasi yang cukup

c) Asupan nutrisi yang bergizi

2) Medikamentosa

Pengobatan bersifat simtomatik (antipiretik, analgetik)

b. Parotitis bakterial akut

1) Nonmedikamentosa

a) Pasien perlu cukup beristirahat

b) Hidrasi yang cukup

c) Asupan nutrisi yang bergizi

2) Medikamentosa

a) Antibiotik

b) Simtomatik (antipiretik, analgetik)

c. Parotitis akibat penyakit sistemik (HIV, tuberkulosis, Sjogren syndrome)

Tidak dijelaskan dalam bagian ini.

Konseling dan Edukasi

a. Penjelasan mengenai diagnosis, penyebab, dan rencana tatalaksana.

b. Penjelasan mengenai pentingnya menjaga kecukupan  hidrasi dan higiene oral.

c. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang adekuat mengenai pentingnya imunisasi MMR untuk mencegah epidemi parotitis mumps.

Kriteria Rujukan

a. Parotitis dengan komplikasi

b. Parotitis akibat kelainan sistemik, seperti HIV, tuberkulosis, dan

Sjogren syndrome.

Prognosis

a. Ad vitam : Bonam

b. Ad functionam : Bonam

c. Ad sanationam : Bonam


Peralatan

a. Termometer

b. Kaca mulut


Referensi

Fox, P. C. & Ship, J. A., 2008. Salivary Gland Diseases. Dalam: M. Greenberg, M. Glick & J. A. Ship, penyunt. Burket's Oral Medicine. Hamilton: BC Decker Inc, pp. 191-222. (Fox & Ship, 2008)


Peritonitis

Peritonitis

No. ICPC-2 : D99 Disease digestive system, other

No. ICD-10 : K65.9 Peritonitis, unspecified

Tingkat Kemampuan 3B


Masalah Kesehatan

Peritonitis adalah inflamasi dari peritoneum. Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulitnya misalnya perforasi apendisitis, perforasi tukak lambung, perforasi tifus abdominalis. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

a. Nyeri hebat pada abdomen yang dirasakan terus-menerus selama beberapa jam, dapat hanya di satu tempat ataupun tersebar di seluruh abdomen. Intensitas  nyeri  semakin  kuat saat penderita bergerak seperti jalan, bernafas, batuk, atau mengejan.

b. Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan  penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok.

c. Mual dan muntah timbul akibat  adanya  kelainan  patologis organ visera atau akibat iritasi peritoneum.

d. Kesulitan bernafas disebabkan oleh adanya cairan dalam abdomen, yang dapat mendorong diafragma.


Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

a. Pasien tampak letargik dan kesakitan

b. Dapat ditemukan demam

c. Distensi abdomen disertai nyeri tekan dan nyeri lepas abdomen

d. Defans muskular

e. Hipertimpani pada perkusi abdomen

f. Pekak hati dapat menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma

g. Bising usus menurun atau menghilang

h. Rigiditas abdomen atau sering disebut perut papan

i. Pada colok dubur akan terasa nyeri di  semua  arah,  dengan tonus muskulus sfingter ani menurun dan ampula rekti berisi udara.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang tidak dilakukan di layanan tingkat pertama untuk menghindari keterlambatan dalam melakukan rujukan.

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis dan pemeriksaan fisik dari tanda-tanda khas yang ditemukan pada pasien.

Diagnosis Banding: -

Komplikasi

a. Septikemia

 b. Syok

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

Pasien segera dirujuk setelah penegakan diagnosis dan penatalaksanaan awal seperti berikut:

a. Memperbaiki keadaan umum pasien

b. Pasien puasa

c. Dekompresi saluran cerna dengan pipa nasogastrik atau intestinal

d. Penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena

e. Pemberian antibiotik spektrum luas intravena.

f. Tindakan-tindakan menghilangkan nyeri dihindari untuk tidak menyamarkan gejala

Kriteria Rujukan

Rujuk ke layanan sekunder yang memiliki dokter spesialis bedah. Peralatan

Nasogastric Tube

Prognosis

Prognosis untuk peritonitis adalah dubia ad malam.

Referensi

a. Wim de jong. Sjamsuhidayat, R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta: EGC. 2011.

b. Schwartz. Shires. Spencer. Peritonitis dan Abses Intraabdomen dalam Intisari Prinsip – Prinsip  Ilmu  Bedah.  Edisi  6.  Jakarta: EGC. 2000.

c. Rasad, S. Kartoleksono, S. Ekayuda, I. Abdomen Akut, dalam Radiologi Diagnostik. Jakarta: Gaya Baru. 1999. (Rasad, et al., 1999)

d. Schrock, T.R. Peritonitis dan Massa abdominal dalam IlmuBedah.  Ed7.Alih bahasa dr. Petrus Lukmanto.  Jakarta: EGC. 2000. (Shrock, 2000)


APENDISITIS AKUT

APENDISITIS AKUT

No. ICPC-2 : S87 (Appendicitis)

No. ICD-10 : K.35.9 (Acute appendicitis) Tingkat Kemampuan 3B


Masalah Kesehatan

Apendisitis akut adalah radang yang timbul secara mendadak pada apendik, merupakan salahsatu kasus akut abdomen yang paling sering ditemui, dan jika tidak ditangani segera dapat menyebabkan perforasi.

Penyebab:

a. Obstruksi lumen merupakan faktor penyebab dominan apendisitis akut

b. Erosi mukosa usus karena parasit Entamoeba hystolitica dan benda asing lainnya


Hasil Anamnesis(Subjective) Keluhan

Nyeri perut kanan bawah, mula-mula daerah epigastrium kemudian menjalar ke Mc Burney. Apa bila telah terjadi inflamasi (>6 jam) penderita dapat menunjukkan letak nyeri karena bersifat somatik.

Gejala Klinis

a. Muntah (rangsangan viseral) akibat aktivasi nervus vagus.

b. Anoreksia, nausea dan vomitus yang timbul beberapa jam sesudahnya, merupakan kelanjutan dari rasa nyeri yang timbul saat permulaan.

c. Disuria juga timbul apabila peradangan apendiks dekat dengan vesika urinaria.

d. Obstipasi sebelum datangnya rasa nyeri dan beberapa penderita mengalami diare, timbul biasanya pada letak apendiks pelvikal yang merangsang daerah rektum.

e. Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi, yaitu suhu antara 37,50C - 38,50C tetapi bila suhu lebih tinggi, diduga telah terjadi perforasi.

f. Variasi lokasi anatomi apendiks akan  menjelaskan  keluhan nyeri somatik yang beragam. Sebagai contoh apendiks yang panjang dengan ujung yang mengalami inflamasi di kuadran kiri bawah akan menyebabkan nyeri di daerah tersebut, apendiks retrosekal akan menyebabkan nyeri flank atau punggung, apendiks pelvikal akan menyebabkan nyeri pada supra  pubik dan apendiks retroileal bisa menyebabkan nyeri testikuler, mungkin karena iritasi pada arteri spermatika dan ureter.


Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik Inspeksi

a. Penderita berjalan membungkuk sambil memegangi perutnya yang sakit

b. Kembung bila terjadi perforasi

c. Penonjolan perut kanan bawah terlihat pada appendikuler abses.

Palpasi

Terdapat nyeri tekan McBurney

a. Adanya rebound tenderness (nyeri lepas tekan)

b. Adanya defans muscular

c. Rovsing sign positif

d. Psoas signpositif

e. Obturator Signpositif Perkusi

Nyeri ketok (+) Auskultasi

Peristaltik normal, peristaltik tidak ada pada illeus paralitik karena peritonitis generalisata akibat appendisitis perforata.

 

Colok dubur

Nyeri tekan pada jam 9-12

Tanda Peritonitis umum (perforasi) :

a. Nyeri seluruh abdomen

b. Pekak hati hilang

c. Bising usus hilang

Apendiks yang mengalami gangren atau perforasi lebih sering terjadi dengan gejala-gejala sebagai berikut:

a. Gejala progresif dengan durasi lebih dari 36 jam

b. Demam tinggi lebih dari 38,5oC

c. Lekositosis (AL lebih dari 14.000)

d. Dehidrasi dan asidosis

e. Distensi

f. Menghilangnya bising usus

g. Nyeri tekan kuadran kanan bawah

h. Rebound tenderness sign

i. Rovsing sign

j. Nyeri tekan seluruh lapangan abdominal Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium darah perifer lengkap

1) Pada apendisitis akut, 70-90% hasil laboratorium nilai leukosit dan neutrofil akan meningkat.

2) Pada anak ditemuka lekositosis 11.000-14.000/mm3, dengan pemeriksaan hitung jenis menunjukkan pergeseran ke kiri hampir 75%.

3) Jika jumlah lekosit lebih dari 18.000/mm3 maka umumnya sudah terjadi perforasi dan peritonitis.

4) Pemeriksaan urinalisa dapat digunakan sebagai konfirmasi dan menyingkirkan kelainan urologi yang menyebabkan nyeri abdomen.

5) Pengukuran kadar HCG bila dicurigai kehamilan ektopik pada wanita usia subur.

b. Foto polos abdomen

1) Pada apendisitis akut, pemeriksaan foto polos abdomen tidak banyak membantu..

2) Pada peradangan lebih luas dan membentuk infiltrat maka usus pada bagian kanan bawah akan kolaps.

3) Dinding usus edematosa, keadaan seperti ini akan tampak pada daerah kanan bawah abdomen kosong dari udara.

4) Gambaran udara seakan-akan terdorong ke pihak lain.

5) Proses peradangan pada fossa iliaka kanan akan menyebabkan kontraksi otot sehingga timbul skoliosis ke kanan.

6) Bila sudah terjadi perforasi, maka pada foto abdomen tegak akan tampak udara bebas di bawah diafragma.

7) Foto polos abdomen supine pada abses appendik kadang- kadang memberi pola bercak udara dan air fluid level pada posisi berdiri/LLD (dekubitus), kalsifikasi bercak rim-like (melingkar) sekitar perifer mukokel yang asalnya dari appendik.


Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik masih merupakan dasar diagnosis apendisitis akut.

Diagnosis Banding

a. Kolesistitis akut

b. Divertikel Mackelli

c. Enteritis regional

d. Pankreatitis

e. Batu ureter

f. Cystitis

g. Kehamilan Ektopik Terganggu (KET)

h. Salpingitis akut


Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Pasien yang telah terdiagnosis apendisitis akut harus segera dirujuk ke layanan sekunder untuk dilakukan operasi cito.

Penatalaksanaan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama sebelum dirujuk:

a. Bed rest total posisi fowler (anti Trandelenburg)

b. Pasien dengan dugaan apendisitis sebaiknya tidak diberikan apapun melalui mulut.

c. Penderita perlu cairan intravena untuk mengoreksi jika ada dehidrasi.

d. Pipa nasogastrik dipasang untuk mengosongkan lambung agar mengurangi distensi abdomen dan mencegah muntah.

Komplikasi

a. Perforasi apendiks

b. Peritonitis umum

c. Sepsis Kriteria Rujukan

Pasien yang telah terdiagnosis harus dirujuk ke layanan sekunder untuk dilakukan operasi cito.

Peralatan

Labotorium untuk pemeriksaan darah perifer lengkap Prognosis

Prognosis pada umumnya bonam tetapi bergantung tatalaksana dan kondisi pasien.

Referensi

a. Sjamsuhidajat, R., Jong, W.D., editor., “Usus Halus, Apendiks, Kolon, dan Anorektum”, dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. EGC, Jakarta, 2005,hlm.639-645.

b. Schwartz, Seymour, (2000), Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta. (Seymour, 2000).


Kolesistitis

Kolesistitis

No. ICPC-2 : D98 Cholecystitis/cholelithiasis

No. ICD-10 : K81.9 Cholecystitis, unspecified

Tingkat Kemampuan 3B


Masalah Kesehatan

Kolesistitis adalah reaksi inflamasi akut atau kronisdinding kandung empedu. Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis adalah stasis cairan empedu, infeksi kuman dan iskemia dinding kandung empedu. Penyebab utama kolesistitis akut adalah batu kandung empedu (90%) yang terletak di duktus sistikus yang menyebabkan stasis cairan empedu.

Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan

Kolesistitis akut:

a. Demam

b. Kolik perut di sebelah kanan atas atau epigastrium dan teralihkan ke bawah angulus scapula dexter, bahu kanan atau yang ke sisi kiri, kadang meniru nyeri angina pektoris, berlangsung 30-60 menit tanpa peredaan, berbeda dengan spasme yang cuma berlangsung singkat pada kolik bilier.

c. Serangan muncul setelah konsumsi makanan besar atau makanan berlemak di malam hari.

d. Flatulens dan mual Kolesistitis kronik

a. Gangguan pencernaan menahun

b. Serangan berulang namun tidak mencolok.

c. Mual, muntah dan tidak tahan makanan berlemak

d. Nyeri perut yang tidak jelas disertai dengan sendawa.

Faktor Risiko

a. Wanita

b. Usia >40 tahun

c. Sering mengkonsumsi makanan berlemak

d. Adanya riwayat kolesistitis akut sebelumnya.


Hasil Pemeriksaan dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

a. Ikterik bila penyebab adanya batu di saluran empedu ekstrahepatik

b. Teraba massa kandung empedu

c. Nyeri tekan disertai tanda-tanda peritonitis lokal, tanda Murphy positif

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium darah menunjukkan adanya leukositosis Penegakan Diagnostik (Assessment)

 Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.

Diagnosis Banding

Angina pektoris, Apendisitis akut, Ulkus peptikum perforasi, Pankreatitis akut

Komplikasi

Gangren atau empiema kandung empedu, Perforasi kandung empedu, Peritonitis umum, Abses hepar

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

a. Tirah baring

b. Puasa

c. Pemasangan infus

d. Pemberian anti nyeri dan anti mual

e. Pemberian antibiotik:

1) Golongan penisilin: Ampisilin injeksi 500 mg/6 jam dan Amoksilin 500 mg/8 jam IV, atau

2) Sefalosporin: Seftriakson 1 gram/ 12 jam, Sefotaksim 1 gram/ 8 jam, atau

3) Metronidazol 500 mg/ 8 jam Konseling dan Edukasi

Keluarga diminta untuk mendukung pasien untuk menjalani diet rendah lemak dan menurunkan berat badan.

Rencana Tindak Lanjut

a. Pada pasien yang pernah mengalami serangan kolesistitis akut dan kandung empedunya belum diangkat kemudian mengurangi asupan lemak dan menurunkan berat badannya harus dilihat apakah terjadi kolesistitis akut berulang.

b. Perlu dilihat ada tidak indikasi untuk dilakukan pembedahan. Kriteria rujukan

Pasien yang telah terdiagnosis kolesistitis dirujuk ke layanan sekunder (spesialis penyakit dalam) sedangkan bila terdapat indikasi untuk pembedahan pasien dirujuk pula ke spesialis bedah.


Peralatan

Laboratorium untuk pemeriksaan darah rutin

 

Prognosis

Prognosis umumnya dubia ad bonam, tergantung komplikasi dan beratnya penyakit.


Referensi

a. Soewondo, P. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi ke 4. Jakarta: FK UI. 2006: Hal 1900-2.

b. Panduan Pelayanan Medik Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM. 2004: Hal 240


Hepatitis B

Hepatitis B

No. ICPC-2 : D72 Viral Hepatitis

No. ICD-10 : B16 Acute Hepatitis B

Tingkat Kemampuan 3A


Masalah Kesehatan

Hepatitis B adalah virus yang menyerang hati, masuk melalui darah ataupun cairan tubuh dari seseorang yang terinfeksi. Virus ini tersebar luas di seluruh dunia dengan angka kejadian yang berbeda- beda. Tingkat prevalensi hepatitis B di Indonesia sangat bervariasi berkisar 2,5% di Banjarmasin sampai 25,61% di Kupang, sehingga termasuk dalam kelompok negara dengan endemisitas sedang sampai tinggi.

Infeksi hepatitis B dapat berupa keadaan yang akut dengan gejala yang berlangsung kurang dari 6 bulan. Apabila perjalanan penyakit berlangsung lebih dari 6 bulan maka kita sebut sebagai hepatitis kronik (5%). Hepatitis B kronik dapat berkembang menjadi sirosis hepatis, 10% dari penderita sirosis hepatis akan berkembang menjadihepatoma.


Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

a. Umumnya tidak menimbulkan gejala terutama pada anak-anak.

b. Gejala timbul apabila seseorang telah terinfeksi selama 6 minggu, antara lain:

1) gangguan gastrointestinal, seperti: malaise, anoreksia, mual dan muntah;

2) gejala flu: batuk, fotofobia, sakit kepala, mialgia.

c. Gejala prodromal seperti diatas akan menghilang pada saat timbul kuning, tetapi keluhan anoreksia, malaise, dan kelemahan dapat menetap.

d. Ikterus didahului dengan kemunculan urin berwarna gelap. Pruritus (biasanya ringan dan sementara) dapat timbul ketika ikterus meningkat. Pada saat badan kuning,  biasanya  diikuti oleh pembesaran hati yang diikuti oleh rasa sakit bila ditekan di bagian perut kanan atas. Setelah gejala tersebut  akan  timbul fase resolusi.

Faktor Risiko

a. Mempunyai hubungan kelamin yang tidak aman dengan orang yang sudah terinfeksi hepatitis B.

b. Memakai jarum suntik secara bergantian terutama kepada penyalahgunaan obat suntik.

c. Menggunakan alat-alat yang biasa melukai bersama-sama dengan penderita hepatitis B.

d. Orang yang bekerja pada tempat-tempat yang terpapar dengan darah manusia.

e. Orang yang pernah mendapat transfusi darah sebelum dilakukan pemilahan terhadap donor.

f. Penderita gagal ginjal yang menjalani hemodialisis.

g. Anak yang dilahirkan oleh ibu yang menderita hepatitis B.


Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

a. Konjungtiva ikterik

b. Pembesaran dan sedikit nyeri tekan pada hati

c. Splenomegali dan limfadenopati pada 15-20% pasien Pemeriksaan Penunjang

a. Tes laboratorium urin (bilirubin di dalam urin)

b. Pemeriksaan darah : peningkatan kadar bilirubin dalam darah, kadar SGOT dan SGPT ≥ 2x nilai normal  tertinggi,  dilakukan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang lebih lengkap.

 c. HBsAg (di pelayanan kesehatan sekunder)


PenegakanDiagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan  anamnesis,  pemeriksaan  fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Diagnosis Banding

Perlemakan hati, penyakit hati oleh karena obat atau toksin, hepatitis autoimun, hepatitis alkoholik, obstruksi akut traktus biliaris

Komplikasi

Sirosis hepar, Hepatoma Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

a. Asupan kalori dan cairan yang adekuat

b. Tirah baring

c. Pengobatan simptomatik

1) Demam: Ibuprofen 2 x 400 mg/hari.

2) Mual: antiemetik seperti Metoklopramid 3 x 10  mg/hari atau Domperidon 3 x 10 mg/hari.

3) Perut perih dan kembung: H2 Bloker (Simetidin 3 x 200 mg/hari atau Ranitidin 2 x 150 mg/hari) atau Proton Pump Inhibitor (Omeprazol 1 x 20 mg/hari).


Rencana Tindak Lanjut

Kontrol secara berkala untuk menilai hasil pengobatan.

Kriteria Rujukan

a. Penegakan diagnosis dengan pemeriksaan penunjang laboratorium di pelayanan kesehatan sekunder

b. Penderita hepatitis B dengan keluhan ikterik yang menetap disertai keluhan yang lain.

Konseling dan Edukasi

a. Memberi edukasi pada keluarga untuk ikut mendukung pasien agar teratur minum obat karena pengobatan jangka panjang.

b. Pada fase akut, keluarga ikut menjaga asupan kalori dan cairan yang adekuat, dan membatasi aktivitas fisik pasien.

 c. Pencegahan penularan pada anggota keluarga dengan modifikasi pola hidup untuk pencegahan transmisi dan imunisasi.


Peralatan

Laboratorium darah rutin, urin rutin dan pemeriksaan fungsi hati Prognosis

Prognosis sangat tergantung pada kondisi pasien saat datang, ada/tidaknya komplikasi, dan pengobatannya. Pada umumnya, prognosis pada hepatitis B adalah dubia, untuk fungtionam dan sanationamdubia ad malam.


Referensi

a. Dienstaq, J.L. Isselbacher, K.J. Acute Viral Hepatitis. In: Braunwald, E. et al. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 16th Ed. McGraw-Hill. New York. 2004.

b. Sherlock, S. Hepatitis B virus and hepatitis delta virus. In: Disease of Liver and Biliary System. Blackwell Publishing Company. 2002: p.285-96.

c. Sanityoso, Andri. Buku Ajar  Ilmu  Penyakit Dalam.  Jilid  I.  Edisi ke 4. Jakarta: FK UI. 2006: Hal 429-33.

d. Soemohardjo, Soewignjo. Gunawan, Stephanus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi ke 4. Jakarta:  FK  UI.  2006:Hal 435-9.

e. Panduan Pelayanan Medik Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.  2004.  Hal  15- 17.


Hepatitis A

Hepatitis A

No. ICPC-2 : D72 Viral Hepatitis

No. ICD-10 : B15 Acute Hepatitis A

Tingkat Kemampuan 4A


Masalah Kesehatan

Hepatitis A adalah  infeksi akut di liver yang disebabkan oleh hepatitis A virus (HAV), sebuah virus RNA yang disebarkan melalui rute fekal oral. Lebih dari 75% orang dewasa simtomatik, sedangkan pada anak

<6 tahun 70% asimtomatik. Kurang dari 1%  penderita  hepatitis  A dewasa berkembang menjadi hepatitis A fulminan.


Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

a. Demam

b. Mata dan kulit kuning

c. Penurunan nafsu makan

d. Nyeri otot dan sendi

e. Lemah, letih, dan lesu.

f. Mual dan muntah

g. Warna urine seperti teh

h. Tinja seperti dempul Faktor Risiko

a. Sering mengkonsumsi makanan atau minuman yang tidak terjaga sanitasinya.

b. Menggunakan alat makan dan minum dari penderita hepatitis.


Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

a. Febris

b. Sklera ikterik

c. Hepatomegali

d. Warna urin seperti teh Pemeriksaan Penunjang

a. Tes laboratorium urin (bilirubin di dalam urin)

b. Pemeriksaan darah : peningkatan kadar bilirubin dalam darah, kadar SGOT dan SGPT  ≥ 2x nilai normal tertinggi, dilakukan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang lebih lengkap.

c. IgM anti HAV (di layanan tingkat lanjutan)


Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Diagnosis Banding

Ikterus obstruktif, Hepatitis B dan C akut, Sirosis hepatis Komplikasi

Hepatitis A fulminan, Ensefalopati hepatikum, Koagulopati


Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

a. Asupan kalori dan cairan yang adekuat

b. Tirah baring

c. Pengobatan simptomatik

1) Demam: Ibuprofen 2 x 400 mg/hari.

2) Mual: antiemetik seperti Metoklopramid 3 x 10  mg/hari atau Domperidon 3 x 10mg/hari.

3) Perut perih dan kembung: H2 Bloker (Simetidin 3 x 200 mg/hari atau Ranitidin 2 x 150 mg/hari) atau Proton Pump Inhibitor (Omeprazol 1 x 20 mg/hari).


Rencana Tindak Lanjut

Kontrol secara berkala untuk menilai hasil pengobatan.

Konseling dan Edukasi

a. Sanitasi dan higiene mampu mencegah penularan virus.

b. Vaksinasi Hepatitis A diberikan kepada orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi.

c. Keluarga ikut menjaga asupan kalori dan cairan yang adekuat, dan membatasi aktivitas fisik pasien selama fase akut.

Kriteria Rujukan

a. Penegakan diagnosis dengan pemeriksaan penunjang laboratorium

b. Penderita Hepatitis A dengan keluhan ikterik yang menetap disertai keluhan yang lain.

c. Penderita Hepatitis A dengan penurunan kesadaran dengan kemungkinan ke arah ensefalopati hepatik.


Peralatan

Laboratorium darah rutin, urin rutin dan pemeriksaan fungsi hati


Prognosis

Prognosis umumnya adalah bonam.


Referensi

a. Dienstaq, J.L. Isselbacher, K.J. Acute Viral Hepatitis. In: Braunwald, E. et al. Harrison’s Principles of Internal Medicine, 16thEd.New York: McGraw-Hill. 2004.

b. Sherlock, S. Hepatitis B virus and hepatitis delta virus. In: Disease of Liver and Biliary System. Blackwell Publishing Company. 2002: p.285-96. (Sherlock, 2002)

c. Sanityoso, Andri. Buku Ajar  Ilmu  Penyakit Dalam.  Jilid  I.  Edisi ke 4. Jakarta: FK UI. 2006: Hal 429-33.

d. Soemohardjo, Soewignjo. Gunawan, Stephanus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi ke 4. Jakarta:  FK  UI.  2006:Hal 435-9.

e. Panduan Pelayanan Medik Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM. 2004:Hal15-17.


Hemoroid Grade 1-2

Hemoroid Grade 1-2

No. ICPC-2 : D95 Anal fissure/perianal abscess

No. ICD-10 : I84 Haemorrhoids

Tingkat Kemampuan 4A Masalah Kesehatan

Hemoroid adalah pelebaran vena-vena didalam pleksus hemoroidalis. Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

a. Perdarahan pada waktu defekasi, darah berwarna merah segar. Darah dapat menetes keluar dari anus beberapa saat setelah defekasi.

b. Prolaps suatu massa pada waktu defekasi. Massa ini mula-mula dapat kembali spontan sesudah defekasi, tetapi kemudian harus dimasukkan secara manual dan akhirnya tidak dapat dimasukkan lagi.

c. Pengeluaran lendir.

d. Iritasi didaerah kulit perianal.

e. Gejala-gejela anemia (seperti : pusing, lemah, pucat).

Faktor Risiko

a. Penuaan

b. Lemahnya dinding pembuluh darah

c. Wanita hamil

d. Konstipasi

e. Konsumsi makanan rendah serat

f. Peningkatan tekanan intraabdomen

g. Batuk kronik

h. Sering mengedan

i. Penggunaan toilet yang berlama-lama (misal : duduk dalam waktu yang lama di toilet)


Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

a. Periksa tanda-tanda anemia

b. Pemeriksaan status lokalis

1) Inspeksi:

a) Hemoroid derajat 1, tidak menunjukkan adanya suatu kelainan diregio anal.

b) Hemoroid derajat 2, tidak terdapat benjolan mukosa yang keluar melalui anus, akan tetapi bagian hemoroid yang tertutup kulit dapat terlihat sebagai pembengkakan.

c) Hemoroid derajat 3 dan 4 yang besar akan  segera dapat dikenali dengan adanya massa yang menonjol dari lubang anus yang bagian luarnya  ditutupi  kulit dan bagian dalamnya oleh mukosa yang berwarna keunguan atau merah.

2) Palpasi:

a) Hemoroid interna pada stadium awal merupaka pelebaran vena yang lunak dan mudah kolaps sehingga tidak dapat dideteksi dengan palpasi.

b) Setelah hemoroid berlangsung lama dan telah prolaps, jaringan ikat mukosa mengalami fibrosis sehingga hemoroid dapat diraba ketika jari tangan meraba sekitar rektum bagian bawah.

 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah rutin, bertujuan   untuk mengetahui adanya anemia dan infeksi.

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Klasifikasi hemoroid, dibagi menjadi :

a. Hemoroid internal, yang berasal dari bagian proksimal dentate line dan dilapisi mukosa

Hemoroid internal dibagi menjadi 4 grade, yaitu :

1) Grade 1 : hemoroid mencapai lumen anal kanal

2) Grade 2 : hemoroid mencapai sfingter eksternal dan tampak pada saat pemeriksaan tetapi dapat masuk kembali secara spontan.

3) Grade 3 : hemoroid telah keluar dari anal canal dan hanya dapat masuk kembali secara manual oleh pasien.

4) Grade 4 : hemoroid selalu keluar dan tidak dapat masuk ke anal kanal meski dimasukkan secara manual

b. Hemoroid eksternal, berasal dari bagian dentate line dan dilapisi oleh epitel mukosa yang telah termodifikasi serta banyak persarafan serabut saraf nyeri somatik.


Diagnosis Banding

Kondiloma Akuminata, Proktitis, Rektal prolaps Komplikasi

Anemia

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan Hemoroid di layanan tingkat pertama hanya untuk hemoroid grade 1 dengan terapi konservatif medis dan menghindari obat-obat anti-inflamasi non-steroid, serta makanan pedas atau berlemak.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah mengurangi rasa nyeri dan konstipasi pada pasien hemoroid.

Konseling dan Edukasi

Melakukan edukasi kepada pasien sebagai upaya pencegahan hemoroid. Pencegahan hemoroid dapat dilakukan dengan cara:

a. Konsumsi serat 25-30 gram perhari. Hal ini bertujuan untuk membuat feses menjadi lebih lembek dan besar, sehingga mengurangi proses mengedan dan tekanan pada vena anus.

b. Minum air sebanyak 6-8 gelas sehari.

c. Mengubah kebiasaan buang air besar. Segerakan ke  kamar mandi saat merasa akan buang air besar, jangan ditahan karena akan memperkeras feses. Hindari mengedan.

Kriteria Rujukan:

Hemoroid interna grade 2, 3, dan 4 dan hemoroid eksterna memerlukan penatalaksanaan di pelayanan kesehatan sekunder.

Peralatan Sarung tangan Prognosis

Prognosis pada umumnya bonam


Referensi

a. Thornton, Scott. Giebel, John. Hemorrhoids. Emedicine. Medscape. Update 12 September 2012. (Thornton & Giebel, 2012)

b. Chong, PS & Bartolo, D.C.C. Hemorrhoids and Fissure in Ano. Gastroenterology Clinics of North America. 2008.


Perdarahan Gastrointestinal

Perdarahan Gastrointestinal

No. ICPC-2 : D14 Haematemesis/vomiting blood D15 Melaena

D16 Rectal Bleeling

No. ICD-10 : K92.2 Gastrointestinal haemorrhage, unspecified K62.5 Haemorrhage of anus and rectum

 Tingkat Kemampuan 3B


a. Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas 

Masalah Kesehatan

Manifestasi perdarahan saluran cerna bervariasi mulai dengan perdarahan masif yang mengancam jiwa hingga perdarahan samar yang tidak dirasakan. Hematemesis menunjukkan perdarahan dari saluran cerna bagian atas, proksimal dari ligamentum Treitz. Melena biasanya akibat perdarahan saluran cerna bagian atas, meskipun demikian perdarahan dari usus halus atau kolon bagian kanan, juga dapat menimbulkan melena.

Di Indonesia perdarahan karena ruptur varises gastroesofagus merupakan penyebab tersering yaitu sekitar 50-60%, gastritis erosif sekitar 25-30%,tukak peptik sekitar 10-15% dan karena sebab lainnya <5%. Mortalitas secara keseluruhan masih tinggi yaitu sekitar 25%, kematian pada penderita ruptur varises bisa mencapai 60% sedangkan kematian pada perdarahan non varises sekitar 9-12%.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

Pasien dapat datang dengan keluhan muntah  darah  berwarna hitam seperti bubuk kopi (hematemesis) atau buang air besar berwarna hitam seperti ter atau aspal (melena).

Gejala klinis lainya sesuai dengan komorbid, seperti  penyakit hati kronis, penyakit paru, penyakit  jantung,  penyakit  ginjal dsb.

Pada anamnesis yang perlu ditanyakan adalah riwayat penyakit hati kronis, riwayat dispepsia, riwayat mengkonsumsi NSAID, obat rematik, alkohol, jamu- jamuan, obat untuk penyakit jantung, obat stroke, riwayat penyakit ginjal, riwayat penyakit paru dan adanya perdarahan ditempat lainnya. Riwayat muntah-muntah sebelum terjadinya hematemesis sangat mendukung kemungkinan adanya sindroma Mallory Weiss.

Faktor Risiko

Konsumsi obat-obat NSAID Faktor Predisposisi

Riwayat sirosis hepatis

Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

1) Penilaian hemodinamik (keadaan sirkulasi)

2) Evaluasi jumlah perdarahan.

3) Pemeriksaan fisik lainnyayaitu mencari stigmata penyakit hati kronis (ikterus, spider nevi, asites, splenomegali, eritema palmaris, edema tungkai), massa abdomen, nyeri abdomen, rangsangan peritoneum, penyakit paru, penyakit jantung, penyakit rematik dll.

4) Rectal toucher

5) Dalam prosedur diagnosis ini penting melihat aspirat dari Naso Gastric Tube (NGT). Aspirat berwarna putih keruh menandakan perdarahan tidak aktif, aspirat berwarna merah marun menandakan perdarahan masif sangat mungkin perdarahan arteri.

Pemeriksaan Penunjang di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama

1) Laboratorium darah lengkap

2) X ray thoraks

Penegakan diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.

Diagnosis Banding Hemoptisis, Hematokezia Komplikasi

Syok hipovolemia, Aspirasi pneumonia, Gagal ginjal akut, Anemia karena perdarahan

Penatalaksanaan komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

1) Stabilkan hemodinamik.

a) Pemasangan IV line

b) Oksigen sungkup/kanula

c) Mencatat intake output, harus dipasang kateter urin

d) Memonitor tekanan darah, nadi, saturasi oksigen dan keadaan lainnya sesuai dengan komorbid yang ada.

 2) Pemasangan NGT (nasogatric tube)

Melakukan bilas lambung agar mempermudah dalam tindakan endoskopi.

3) Tirah baring

4) Puasa/diet hati/lambung

a) Injeksi antagonis reseptor H2 atau penghambat pompa proton (PPI)

b) Sitoprotektor: sukralfat 3-4 x1 gram

c) Antasida

d) Injeksi vitamin K untuk pasien dengan penyakit hati kronis

Rencana Tindak Lanjut

Walaupun sudah dilakukan terapi endoskopi pasien dapat mengalamiperdarahan ulang. Oleh karena itu perlu dilakukan asesmen yang lebih akurat untuk memprediksi  perdarahan ulang dan mortalitas.

Konseling dan Edukasi

Keluarga ikut mendukung untuk menjaga diet dan pengobatan pasien.

Kriteria Rujukan

1) Terhadap pasien yang diduga kuat karena ruptura varises esophagus di rujuk ke pelayanan kesehatan sekunder

2) Bila perdarahan tidak berhenti dengan penanganan awal di layanan tingkat pertama

3) Bila terjadi anemia berat Peralatan

1) Kanula satu sungkup oksigen

2) Naso Gastric Tube (NGT)

3) Sarung tangan

4) EKG

5) Laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap, fungsi hati, dan fungsi ginjal.

Prognosis

Prognosis untuk kondisi ini adalah dubia, mungkin tidak sampai mengancam jiwa, namun ad fungsionam dan sanationam umumnya dubia ad malam.

 

Referensi

1) Soewondo. Pradana.  Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid

III. Edisi ke 4. Jakarta: FK UI. 2006: Hal 291-4.

2) Panduan Pelayanan Medik Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM. 2004:Hal

229. (Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI RSCM, 2004)

3) Galley, H.F. Webster, N.R. Lawler, P.G.P. Soni, N. Singer, M,Critical Care. Focus 9 Gut. London: BMJ Publishing Group. 2002. (Galley, et al., 2002)

4) Elta, G.H.Approach to the patient with gross gastrointestinal bleeding in Yamada, T.Alpers, D.H. Kaplowitz, N. Laine, L. Owyang, C. Powell, D.W.Eds. Text Book of Gastroenetrology. 4tEd. Philadelphia: Lippincot William &  Wilkins.  2003. (Elta, 2003)

5) Rockey, D.C.Gastrointestinal bleeding in Feldman, M. Friedman, L.S. Sleisenger, M.H.Eds.Sleisenger & Fordtran’s Gastrointestinal and Liver Disease. 7thEd. Philadelphia: W.B. Sauders.2002. (Rockey, 2002)

6) Gilbert, D.A. Silverstein, F.E.Acute upper gastrointestinal bleeding in Sivak, M.V.Ed.Gastroenterologic endoscopy. Philadelphia: WB Sauders. 2000. (Gilbert & Silverstein, 2000)


b. Perdarahan Saluran Cerna Bagian Bawah 

Masalah Kesehatan

Perdarahan saluran cerna bagian bawah umumnya didefinisikan sebagai perdarahan yang berasal dari usus di sebelah bawah ligamentum Treitz. Hematokezia diartikan darah segar yang keluar melalui anus dan merupakan manifestasi tersering dari perdarahan saluran cerna bagian bawah.

Penyebab tersering dari saluran cerna bagian bawah antara lain perdarahan divertikel kolon, angiodisplasia dan kolitis iskemik. Perdarahan saluran cerna bagian bawah yang kronik dan berulang biasanya berasal dari hemoroid dan neoplasia kolon.

Hasil Anamnesis (Anemnesis)

Keluhan

1) Pasien datang dengan keluhan darah segar yang keluar melalui anus (hematokezia).

2) Umumnya melena menunjukkan perdarahan di saluran cerna bagian atas atau usus halus, namun demikian melena dapat juga berasal dari perdarahan kolon sebelah kanan dengan perlambatan mobilitas.

3) Perdarahan dari divertikulum biasanya tidak nyeri. Tinja biasanya berwarna merah marun, kadang-kadang bisa juga menjadi merah. Umumnya terhenti secara spontan  dan tidak berulang.

4) Hemoroid dan fisura ani biasanya menimbulkan perdarahan dengan warna merah segar tetapi tidak bercampur dengan faeces.

5) Pasien dengan perdarahan samar saluran cerna kronik umumnya tidak ada gejala atau kadang hanya rasa lelah akibat anemia.

6) Nilai dalam anamnesis apakah bercampur dengan feses (seperti terjadi pada kolitis atau lesi di proksimal rektum) atau terpisah/menetes (terduga hemoroid), pemakaian antikoagulan, atau terdapat gejala sistemik lainnya seperti demam lama (tifoid, kolitis infeksi), menurunnya berat badan (kanker), perubahan pola defekasi (kanker), tanpa rasa sakit (hemoroid intema, angiodisplasia), nyeri perut (kolitis infeksi, iskemia mesenterial), tenesmus ani (fisura, disentri).


Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

1) Pada colok dubur ditemukan darah segar

2) Nilai tanda vital, terutama ada tidaknya renjatan atau hipotensi postural (Tilt test).

3) Pemeriksaan fisik abdomen untuk menilai  ada  tidaknya rasa nyeri tekan (iskemia mesenterial), rangsang peritoneal (divertikulitis), massa intraabdomen (tumor kolon, amuboma, penyakit Crohn).

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah perifer lengkap, feses rutin dan tes darah samar.


Penegakan diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Diagnosis Banding

Haemorhoid, Penyakit usus inflamatorik, Divertikulosis, Angiodisplasia, Tumor kolon

Komplikasi

1) Syok hipovolemik

2) Gagal ginjal akut

3) Anemia karena perdarahan


Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

1) Stabilkan hemodinamik

a) Pemasangan IV line

b) Oksigen sungkup/kanula

c) Mencatat intake output, harus dipasang kateter urin

d) Memonitor tekanan darah, nadi, saturasi oksigen dan keadaan lainnya sesuai dengan komorbid yang ada.

2) Beberapa perdarahan saluran cerna bagian bawah dapat diobati secara medikamentosa. Hemoroid fisura ani dan ulkus rektum soliter dapat diobati dengan bulk-forming agent, sitz baths, dan menghindari mengedan.

3) Kehilangan darah samar memerlukan suplementasi besi yaitu Ferrosulfat 325 mg tiga kali sehari.

Konseling dan Edukasi

Keluarga ikut mendukung untuk menjaga diet dan pengobatan pasien.

Kriteria Rujukan

Perdarahan saluran cerna bagian bawah yang terus menerus

Rujuk ke pelayanan kesehatan sekunder untuk diagnosis definitif bila tidak dapat ditegakkan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama

Peralatan

1) Laboratorium untuk pemeriksaan darah lengkap dan faeces darah samar

2) Sarung tangan Prognosis

Prognosis sangat tergantung pada kondisi pasien saat datang, ada/tidaknya komplikasi, dan pengobatannya.


Referensi

1) Abdullah. Murdani, Sudoyo. Aru, W. dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Dep. IPD. FKUI.2007. (Sudoyo, et al., 2006)

2) Panduan Pelayanan Medik Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM. 2004.Hal

234. (Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI RSCM, 2004)


LP ASKEP ANAK FARINGITIS

  ASUHAN KEPERAWATAN ANAK   KONSEP DASAR FARINGTIS     A.     Pengertian 1.      Faringitis adalah radang pada faring yan...