Wednesday, March 1, 2023

Strongiloidiasis

Strongiloidiasis

No. ICPC II : D96 Worms/other parasites

No. ICD X : B78.9 Strongyloidiasis

Tingkat Kemampuan 4A


Masalah Kesehatan

Strongiloidiasis adalah penyakit kecacingan yang disebabkan oleh Strongyloides stercoralis, cacing yang biasanya hidup di kawasan tropik dan subtropik. Sekitar 100 juta orang diperkirakan terkena penyakit ini di seluruh dunia. Infeksi cacing ini bisa menjadi sangat berat dan berbahaya pada mereka yang dengan status imun menurun seperti pada pasien HIV/AIDS, transplantasi organ serta pada pasien yang mendapatkan pengobatan kortikosteroid jangka panjang.


Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

Pada infestasi ringan Strongyloides pada umumnya tidak menimbulkan gejala khas.

Gejala klinis

a. Rasa gatal pada kulit

b. Pada infeksi sedang dapat menimbulkan gejala seperti ditusuk- tusuk di daerah epigastrium dan tidak menjalar

c. Mual, muntah

d. Diare dan konstipasi saling bergantian Faktor Risiko

a. Kurangnya penggunaan jamban.

b. Tanah yang terkontaminasi dengan tinja yang mengandung larva Strongyloides stercoralis.

c. Penggunaan tinja sebagai pupuk.

d. Tidak menggunakan alas kaki saat bersentuhan dengan tanah. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

a. Timbul kelainan pada kulit “creeping eruption” berupa papul eritema yang menjalar dan tersusun linear atau berkelok-kelok meyerupai benang dengan kecepatan 2 cm per hari.Predileksi penyakit ini terutama pada daerah telapak kaki, bokong, genital dan tangan.

b. Pemeriksaan generalis: nyeri epigastrium.

Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan laboratorium mikroskopik: menemukan larva rabditiform dalam tinja segar, atau menemukan cacing dewasa Strongyloides stercoralis.

b. Pemeriksaan laboratorium darah: dapat ditemukan eosinofilia atau hipereosinofilia, walaupun pada banyak kasus jumlah sel eosinofilia normal.


Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Penegakan diagnosis dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan ditemukannya larva atau cacing dalam tinja.

Diagnosis Banding: - Komplikasi: -

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

a. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, antara lain:

1) Menggunakan jamban keluarga.

2) Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktifitas.

3) Menggunakan alas kaki.

4) Hindari penggunaan pupuk dengan tinja.

b. Farmakologi

1) Pemberian Albendazol menjadi terapi pilihan saat ini dengan dosis 400 mg, 1-2 x sehari, selama 3 hari, atau

2) Mebendazol 100 mg, 3 x sehari, selama 2 atau 4 minggu. Konseling dan Edukasi

Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, yaitu  antara lain:

a. Sebaiknya setiap keluarga memiliki jamban keluarga.

b. Menghindari kontak dengan tanah yang tercemar oleh tinja manusia.

c. Menggunakan sarung tangan jika ingin mengelola limbah/sampah.

d. Mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan aktifitas dengan menggunakan sabun.

e. Menggunakan alas kaki. Kriteria Rujukan: -

Pasien strongyloidiasis dengan keadaan imunokompromais seperti penderita AIDS


Peralatan

Peralatan laboratorium sederhana untuk pemeriksaan darah dan feses.

Prognosis

Pada umumnya prognosis penyakit ini adalah bonam, karena jarang menimbulkan kondisi klinis yang berat.

Referensi

a. Gandahusada, S. 2000. Parasitologi Kedokteran. Edisi ketiga. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

b. Ganesh S, Cruz RJ. Review Strongyloidiasis: a multifaceted diseases. Gastroenetrology & hepatology 2011;7:194-6. (Ganesh & Cruz, 2011)

c. King CH. Hookworms. In: Berhman RE, Kliegman RM, Arvin AM, editors. Nelson’s Tetxbook of Pediatrics. 19th ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company; 2012. p.1000-1.


No comments:

Post a Comment

Manajemen Telusur

DOKUMEN TELUSUR POKOK Rencana Strategis ( Renstra )   >>>>>>>>>> View Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP) dan ...