TUGAS TERSTRUKTUR MATA
KULIAH KEPERAWATAN ANAK
LAPORAN
PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
LAPORAN PENDAHULUAN
A.
PENGERTIAN
Tetralogi fallot (TF) adalah kelainan jantung dengan gangguan
sianosis yang ditandai dengan kombinasi 4 hal yang abnormal meliputi Defek septum
ventrikel, Stenosis pulmonal, Overriding aorta, dan Hipertrofi ventrikel kanan.
1.
Defek septum ventrikel : adanya lubang di sekat
pemisah bilik kiri (ventrikel kiri) dengan bilik kanan (ventrikel kanan)
2.
Stenosis pulmonal : penyempitan klep pembuluh
darah yang keluar dari bilik kanan menuju paru, bagian otot dibawah klep juga
menebal dan menimbulkan penyempitan
3.
Overriding Aorta : pembuluh darah utama yang
keluar dari bilik kiri mengangkang sekat bilik, sehingga seolah-olah sebagian
aorta keluar dari bilik kanan
4.
Hipertrofi ventrikel kanan :,penebalan otot bilik
kanan akibat kerja keras (karena jalan keluarnya terhambat) dan tekanan dalam
rongga ini meningkat.
Komponen yang paling penting dalam
menentukan derajat beratnya penyakit adalah stenosis pulmonal dari sangat
ringan sampai berat. Stenosis pulmonal bersifat progresif , makin lama
makin berat.
B.
ETIOLOGI
Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung
bawaan tidak diketahui secara pasti. Diduga karena adanya faktor endogen dan
eksogen. Faktor
–factor tersebut antara lain :
Faktor Endogen
1.
Berbagai jenis penyakit genetik :
Kelainan kromosom
2.
Anak yang lahir sebelumnya
menderita penyakit jantung bawaan
3.
Adanya penyakit tertentu dalam keluarga
seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung atau kelainan bawaan
Faktor eksogen
: Riwayat kehamilan ibu
1. Sebelumnya ikut program KB oral atau suntik, minum
obat-obatan tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine, aminopterin,
amethopterin, jamu)
2. Ibu menderita penyakit
infeksi : Rubella
3. Pajanan terhadap sinar –X
Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan
eksogen tersebut jarang terpisah
menyebabkan penyakit jantung bawaan. Apapun sebabnya, pajanan terhadap faktor
penyebab harus ada sebelum akhir bulan kedua kehamilan, oleh karena pada minggu
ke delapan kehamilan pembentukan jantung janin sudah selesai
C.
PATOFISIOLOGI
Tetralogi fallot merupakan kelainan “Empat Sekawan“ yang terdiri dari
defek septum ventrikel, overriding aorta, stenosis infundibuler dan hipertrofi
ventrikel kanan. Secara anatomis sesungguhnya tetralogi fallot merupakan suatu
defek ventrikel subaraortik yang disertai deviasi ke anteriol septum
infundibuler (bagian basal dekat dari aorta). Devisiasi ini menyebabkan akar
aorta bergeser ke depan (dekstroposisi aorta), sehinnga terjadi overriding
aorta terhadap septum interventrikuler, stenosis pada bagian infundibuler
ventrikel kanan dan hipoplasia arteri pulmonal. Pada tetralogi fallot,
overriding aorta biasanya tidak melebihi 50 %. Apabila overriding aorta
melebihi 50 %, hendaknya dipikirkan kemungkinan adanya suatu outlet ganda
ventrikel kanan.
Devisiasi septum infindibuler ke arah anteriol ini sesungguhnya merupakan
bagian yang paling esensial pada tetralogi fallot. Itulah sebabnya suatu defek
septum ventrikel dan overriding aorta yang disertai stenosis pulmonal valvuler
misalnya, tidak bisa disebut sebagai tetralogi fallot apabila tidak terdapat
devisiasi septum infundibuler ke anteriol. Kadang-kadang tetralogi fallot
disertai pada adanya septum antrium sekunder dan kelompok kelainan ini disebut
sebagai tetralogi fallot
Betapapun tekanan dalam ventrilel kanan meninggi karena obstruksi
infundibuler, tapi dengan adanya defek septum ventrikel pada tetralogi fallot,
daerah didorong ke kiri masuk ke aorta, sehingga tekanan dalam ventrikel kanan,
ventrikel kiri dan aorta relative menjadi sama. Itulah sebabnya mungkin mengapa
pada tetralogi fallot jarang terjadi gagal jantung kongestif, berbeda dengan
stenosis pulmonal yang berat tanpa disertai defek septum ventrikel, gagal
jantung kongestif bisa saja melebihi tekanan sistemik
Sianosis merupakan gejala tetralogi fallot yang utama. Berat ringanya
sianosis ini tergantung dari severitas stenosis infindibuler yang terjadi pada
tetralogi fallot dan arah pirau interventrikuler. Sianosis dapat timbul
semenjak lahir dan ini menandakan adanya suatu stenosis pulmonal yang berat
atau bahkan atresia pulmonal atau bisa pula sianosois timbul beberapa bulan
kemudian pada stenosis pulmonal yang ringan. Sianosis biasanya berkembang
perlahan-lahan dengan bertambahnya usia dan ini menandakan adanya peningkatan
hipertrofi infindibuler pulmonal yang memperberat obstruksi pada bagian itu
Stenosis infindibuler merupakan beban tekanan berlebih yang kronis bagi
ventrkel kanan, sehingga lama-lama ventrikel kanan mengalami hipertrofi.
Disamping itu, dengan meningkatnya usia dan meningkatnya tekanan dalam
ventrikel kanan, kolateralisasi aorta pulmonal sering tumbuh luas pada
tetralogi fallot, melalui cabang-cabang mediastinal, brokhial, esophageal,
subklavika dan anomaly arteri lainya. Kolateralisasi ini disebut MAPCA ( major
aorta pulmonary collateral arteries )
D.
Terpapar faktor endogen & eksogen selama
kehamilan trimester I-II
PATWAY
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Cemas

E.
MANIFESTASI KLINIS
1. Sianosis muncul setelah
beberapa bulan : jarang tampak pada saat lahir dan bertambah berat secara
progresif
2. Serangan hipersianotik
a. Peningkatan frekuensi dan
kedalaman pernafasan
b. Sianosis akut
c. Iritabilitas system syaraf
pusat yang dapat berkembang sampai lemah dan pingsan dan akhirnya menimbulkan
kejang, stroke dan kematian (terjadi pada 35 % kasus)
3. Jari tubuh ( Clubbing
finger )
4. Pada awalnya tekanan darah
normal, dapat meningkat setelah beberapa tahun mengalami sianosis dan
polisitemia berat
5. Posisi jongkok klasik
mengurangi aliran balik vena dari ekstremitas bawah dan meningkatkan aliran
darah pulmoner dan oksigenisasi arteri sistemik
6. Gagal tumbuh
7. Anemia menyebabkan
perburukan gejala
a. Penurunan toleransi
terhadap latihan
b. Peningkatan dispneu
c. Peningkatan frekuensi
hiperpnea proksismal
d. Asidosis
e. Murmur ( sistolik dan
continue )
f.
Posisi lutut atau kepala ke dada selama serangan atau setelah
latihan
F.
KOMPLIKASI
Komplikasi
dari gangguan ini antara lain :
1. Penyakit vaskuler pulmonel
2. Deformitas arteri pulmoner
kanan
3. Perdarahan hebat terutama
pada anak dengan polistemia
4. Emboli atau thrombosis
serebri, resiko lebih tinggi pada polisistemia, anemia, atau sepsis
5. Gagal jantung
kongestif jika piraunya terlalau besar
6. Oklusi dini pada pirau
7. Hemotoraks
8. Sianosis persisten
9. Efusi pleura
10. Trombosis Pulmonal
11. Anemia relative
G.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium
Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin
dan hematokrit (Ht) akibat saturasi oksigen yang rendah. Pada umumnya
hemoglobin dipertahankan 16-18 gr/dl dan hematokrit antara 50-65 %. Nilai BGA menunjukkan
peningkatan tekanan partial karbondioksida (PCO2), penurunan tekanan parsial
oksigen (PO2) dan penurunan PH. Pasien dengan Hg dan Ht normal atau rendah mungkin menderita defisiensi besi.
2. Radiologis
Sinar X pada thoraks menunjukkan
penurunan aliran darah pulmonal, tidak ada pembesaran jantung, gambaran khas
jantung tampak apeks jantung terangkat sehingga seperti sepatu.
3. Elektrokardiogram
Pada EKG sumbu QRS hampir selalu berdeviasi ke kanan. Tampak pula
hipertrofi ventrikel kanan. Pada anak besar dijumpai P pulmonal
4. Ekokardiografi
Memperlihatkan dilatasi aorta, overriding aorta dengan dilatasi ventrikel
kanan, penurunan ukuran arteri pulmonalis & penurunan aliran darah ke
paru-paru
5. Kateterisasi
Diperlukan sebelum tindakan pembedahan untuk mengetahui defek septum
ventrikel multiple, mendeteksi kelainan arteri koronari dan mendeteksi stenosis
pulmonal perifer. Mendeteksi adanya penurunan saturasi oksigen, peningkatan
tekanan ventrikel kanan, dengan tekanan pulmonalis normal atau rendah
H.
PENATALAKSANAAN
Pada penderita yang mengalami serangan sianosis maka
terapi ditujukan untuk memutus patofisiologi serangan tersebut, antara lain
dengan cara :
1. Posisi lutut ke dada agar
aliran darah ke paru bertambah
2. Morphine sulfat 0,1-0,2 mg/kg SC, IM atau IV untuk
menekan pusat pernafasan dan mengatasi takipneu.
3. Bikarbonas natrikus 1
Meq/kg BB IV untuk mengatasi asidosis
4. Oksigen dapat diberikan,
walaupun pemberian disini tidak begitu tepat karena permasalahan bukan karena
kekurangan oksigen, tetapi karena aliran darah ke paru menurun. Dengan usaha
diatas diharapkan anak tidak lagi takipnea, sianosis berkurang dan anak menjadi
tenang. Bila hal ini tidak terjadi dapat dilanjutkan dengan pemberian
5. Propanolo
l 0,01-0,25 mg/kg IV perlahan-lahan untuk menurunkan denyut jantung sehingga
seranga dapat diatasi. Dosis total dilarutkan dengan 10 ml cairan dalam spuit, dosis
awal/ bolus diberikan separohnya, bila serangan belum teratasi sisanya
diberikan perlahan dalam 5-10 menit berikutnya
6. Ketamin
1-3 mg/kg (rata-rata 2,2 mg/kg) IV perlahan. Obat ini bekerja meningkatkan
resistensi vaskuler sistemik dan juga sedative
7. Penambahan
volume cairan tubuh dengan infus cairan dapat efektif dalam penganan serangan
sianotik. Penambahan volume darah juga dapat meningkatkan curah jantung,
sehingga aliran darah ke paru bertambah
dan aliran darah sistemik membawa oksigen ke seluruh tubuh juga meningkat.
Lakukan selanjutnya
1. Propanolol oral 2-4
mg/kg/hari dapat digunakan untuk serangan sianotik
2. Bila ada defisiensi zat
besi segera diatasi
3. Hindari dehidrasi
ASUHAN KEPERAWATAN
TETRALOGI FALLOT
A.
PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Anamnese
a.
Riwayat kehamilan :
Ditanyakan apakah ada faktor endogen dan eksogen.
Faktor Endogen
1)
Berbagai jenis penyakit genetik :
Kelainan kromosom
2)
Anak yang lahir sebelumnya
menderita penyakit jantung bawaan
3)
Adanya penyakit tertentu dalam keluarga
seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung atau kelainan bawaan
Faktor eksogen : Riwayat
kehamilan ibu
1) Sebelumnya ikut program KB oral atau suntik, minum
obat-obatan tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine. aminopterin,
amethopterin, jamu)
2) Ibu menderita penyakit
infeksi : Rubella
3) Pajanan terhadap sinar –X
b.
Riwayat
tumbuh
Biasanya anak cendrung mengalami
keterlambatan pertumbuhan karena fatiq selama makan dan peningkatan kebutuhan
kalori sebagai akibat dari kondisi penyakit Anak akan sering Squatting (jongkok)
setelah anak dapat berjalan, setelah berjalan beberapa lama anak akan
berjongkok dalam beberapa waktu sebelum ia berjalan kembali.
c. Riwayat psikososial/
perkembangan
1) Kemungkinan mengalami
masalah perkembangan
2) Mekanisme koping anak/
keluarga
3) Pengalaman hospitalisasi
sebelumnya
d. Pemeriksaan fisik
1) Akivitas dan istirahat
Gejala : Malaise,
keterbatasan aktivitas/ istirahat karena kondisinya.
Tanda : Ataksia,
lemas,
masalah berjalan, kelemahan umum,
keterbatasan
dalam rentang gerak.
2) Sirkulasi
Gejala : Takikardi, disritmia
Tanda : adanya Clubbing finger
setelah 6 bulan, sianosis pada
membran muksa, gigi sianotik
3) Eliminasi
Tanda : Adanya inkontinensia
dan atau retensi.
4) Makanan/ cairan
Tanda : Kehilangan
nafsu makan,kesulitan menelan, sulit menetek
Gejala : Anoreksia, muntah,
turgor kulit jelek, membran mukosa
kering
5) Hiegiene
Tanda : ketergantungan terhadap semua
kebutuhan perawatan diri.
6) Neurosensori
Tanda : Kejang, kaku kuduk
Gejala : Tingkat kesadaran
letargi hingga koma bahkan kematian
7) Nyeri/ keamanan
Tanda : Sakit kepala berdenyut hebat pada
frontal, leher kaku
Gejala : Tampak terus terjaga,
gelisah, menangis/ mengaduh/mengeluh
8) Pernafasan
Tanda : Auskultasi terdengar bising sistolik
yang keras didaerah pulmonal yang semakin melemah dengan bertambahnya derajat
obstruksi
Gejala : Dyspnea, napas cepat dan dalam
9) Nyeri/ keamanan
Tanda : Sianosis, pusing, kejang
Gejala : Suhu meningkat, menggigil,
kelemahan secara umum,
2. Pemeriksaan penunjang
a.
Pemeriksaan laboratorium : Peningkatan
hemoglobin dan hematokrit (Ht) akibat saturasi oksigen yang rendah
b.
Radiologis : Sinar X pada thoraks menunjukkan penurunan aliran
darah pulmonal, tidak ada pembesaran jantung, gambaran khas jantung tampak
apeks jantung terangkat sehingga seperti sepatu
c.
Elektrokardiogram ( EKG) : Pada EKG sumbu QRS hampir selalu berdeviasi
ke kanan. Tampak pula hipertrofi ventrikel kanan. Pada anak besar dijumpai
P pulmonal
d.
Ekokardiografi : Memperlihatkan dilatasi
aorta, overriding aorta dengan dilatasi ventrikel kanan, penurunan ukuran
arteri pulmonalis & penurunan aliran darah ke paru-paru
e.
Katerisasi jantung :
ditemukan adanya defek septum ventrikel multiple, mendeteksi kelainan arteri
koronari dan mendeteksi stenosis pulmonal perifer
f.
Gas darah : adanya penurunan saturasi
oksigen dan penurunan PaO2
B.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Gangguan pertukaran gas b.d
penurunan alian darah ke pulmonal
2.
Penurunan kardiak output b.d sirkulasi yang tidak
efektif sekunder dengan adanya malformasi jantung
3.
Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan
sirkulasi (anoxia kronis, serangan sianotik akut)
4.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b.d fatiq selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori,
penurunan nafsu makan
5.
Penigkatan
volume cairan tubuh b.d kongestif vena
6.
Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen
7.
Kurang pengetahuan klg tentang
diagnosis/ prognosis penyakit anak b.d kurangnya paparan informasi
8.
Cemas berhubungan
dengan kurang pengetahuan orang tua atau informasi tentang penyakit
C.
INTERVENSI
1.
Dx I :
Gangguan pertukaran gas b.d penurunan alian darah ke pulmonal
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pertukaran gas
kembali lancar
NOC : Respiratory status : Gas Exchange
Kriteria hasil :
a.
Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi
b.
Oksigen yang adekuat
c.
Memelihara kebersihan paru
d.
Bebas dari tanda distress pernafasan
e.
TTV dalam rentang normal
Indicator skala :
1 = Selalu menunjukan
2 = Sering menunjukan
3
= Kadang menunjukan
4 = Jarang menunjukan
5 = tidak pernah menunjukan
NIC : Respiratory Monitoring
Intervensi :
a.
Monitor rata-rata,
kedalaman, irama dan usaha respirasi
b.
Monitor suara napas
c.
Auskultasi suara napas,
catat area penurunan/tidak adanya ventilasi dan suara tambahan
d.
Tentukan kebutuhan
suction dengan mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan napas
e.
Monitor kelelahan otot
diafragma (gerakan paradoksis)
f.
Monitor TTV
2.
Dx II
: Penurunan kardiak output b.d sirkulasi yang tidak efektif sekunder dengan adanya
malformasi jantung
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
selama proses keperawatan diharapkan
curah jantung efektif
NOC : Status Sirkulasi
Kriteria Hasil
:
a. Sistolik dan diastolik
dalam batas normal
b. Denyut jantung dalam batas
normal
c. Oedem perifer tidak ada
d. Gas darah dalam batas
normal
Indikator skala
:
1 = Ekstrem
2 = Kuat
3 = Ringan
4 = Sedang
5 = Tidak ada
gangguan
NIC :
Regulasi Hemodinamik
Intervensi :
a. Pantau denyut perifer,
waktu pengisian kapiler, dan suhu serta warna ekstremitas
b. Pantau dan dokumentasikan
denyut jantung, irama dan nadi.
c. Pantau asupan/ haluaran
urin, dan berat badan pasien dengan tepat
d. Minimalkan/ hilangkan
stressor lingkungan
e. Pasang kateter jika
diperlukan
3.
Dx III : Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan
sirkulasi ( anoxia kronis, serangan sianotik akut)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
selama proses keperawatan diharapkan perfusi jaringan efektif
Noc : Perfusi jaringan perifer
Kriteria Hasil :
a. Fungsi otot utuh
b. Kulit utuh, warna normal
c. Denyut proximal dan
perifer distal kuat dan simetris
Indikator
skala :
1 = Ekstrem
2 = Berat
3 = Sedang
4 = Ringan
5 = tidak
terganggu
NIC :
Perawatan sirkulasi
Intervensi :
a. Melakukan sirkulasi
perifer secara komprehensif
b. Kaji tingkat rasa tidak
nyaman/ nyeri
c. Pantau status cairan
meliputi asupan dan haluaran
d. Rendahkan ekstremitas
untuk menigkatkan sirkulasi arteri yang tepat.
e. Anjurkan latihan gerak
aktif/pasif selama tirah baring
4.
Dx IV : Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d fatiq
selama makan dan peningkatan kebutuhan
kalori, penurunan nafsu
makan
Tujuan : Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan BB stabil, pasien
bebas dari tanda -tanda malnutrisi dan pasien dapat mengumpulkan energi untuk
beraktivitas kembali.
NOC : Nutritional
status:food and fluid intake.
Kriteria Hasil
:
a.
Asupan nutrisi.
b.
Asupan makanan dan cairan.
c.
BB meningkat.
d.
Kekuatan dapat terkumpul kembali.
e.
Stamina
Indicator Skala :
1 = Tidak pernah menujukkan
2 = Jarang menunjukkan
3 = Kadang menunjukkan
4 = Sering menunjukkan
5 = Selalu menunjukan
NIC : 1. Nutrition
Management 2. Nutrition terapi
Intervensi :
NIC I : Nutrition
Management
a.
Kaji BB
b.
Berikan makanan tinggi kalori untuk
peningkatan energi.
c.
Berikan makanan tinggi Na.
d.
Tingkatkan makanan yang mengandung
protein,vitamin dan besi
apabila dianjurkan.
NIC II : Nutrition terapi
a.
Berikan lingkungan nyaman pada saat
pasien makan.
b.
Lakukan perawatan mulut sebelum pasien
makan.
c.
Sediakan makanan yang menarik untuk
pasien agar pasien merasa tertarik.
d.
Ajari pasien dan keluarga tentang diet
yang harus diberikan.
5. Dx V : Penigkatan volume cairan tubuh b.d kongestif vena
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama proses keperawatan diharapkan terjadi keseimbangan cairan
dan tidak ada oedem pada tubuh
NOC : Fluid Balance
Kriteria Hasil :
a. Tekanan
darah normal.
b. Denyut
nadi normal.
c. Denyut
nadi teraba.
d. Tidak
terjadi acites/oedema pada perut.
e. Masukan
selama 24 jam seimbang.
f. Penegangan
pada vena jugularis tidak teraba.
g. Turgor
kulit baik.
Indikator skala
:
1 : Tidak pernah menunjukkan.
2 : Jarang menunjukkan.
3 : Kadang menunjukkan.
4 : Sering menunjukkan.
5 : Selalu menunjukkan.
NIC : Fluid/Electrolyte management.
Intervensi :
a. Kaji
keadaan umum pasien.
b. Kaji
tanda-tanda vital.
c. Monitor
tanda dan gejala peningkatan retensi urine.
d. Pantau
masukan dan keluaran urine serta hitung keseimbangan cairan.
e. Berikan/batasi
ciaran tergantung pada status volume cairan.
f. Kolaborasi
medis untuk pemberian obat-obatan ( Diuretik)
6.
Dx VI : Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan aktivitas cukup.
NOC : Activity
tolerance
Kruteria hasil :
a.
Pola napas dalam rentang normal
b.
Warna kulit normal
c.
Kemampuan untuk berbicara saat
aktivitas
d.
Kebutuhan oksigen aktivitas terpenuhi
Indicator skala :
1 = Selalu menunjukan
2 = Sering menunjukan
3 = Kadang menunjukan
4 = Jarang menunjukan
5 = Tidak pernah menunjukan
NIC : Activity Therapy
Intervensi :
a.
Tentukan kesedian pasien untuk
meningkatkan aktivitas sesuai kondisi fisik
b.
Bantu pasien untuk memilih aktivitas
yang sesuai kondisinya
c.
Bantu pasien untuk fokus dalam
melakukan aktivitasnya
d.
Monitor emosiaonal, fisik dan
spiritual terhadap aktivitas
e.
Bantu keluarga memonitor peningkatan
aktivitas ke arah tujuan
7.
Dx VII : Kurang
pengetahuan klg tentang diagnosis/prognosis penyakit anak b.d kurangnya paparan
informasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan penegtahuan
keluarga pasien menjadi adekuat.
NOC : Pengetahuan tentang
proses penyakit
Kriteria Hasil
:
a. Mendeskripsikan proses
penyakit
b. Mendeskripsikan factor
penyebab
c. Mendeskripsikan factor
resiko
d. Mendeskripsikan tanda dan
gejala
e. Mendeskripsikan komplikasi
Indicator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Mengajarkan proses penyakit
Intervensi :
a.
Mengobservasi kesiapan klien untuk
mendengar (mental, kemampuan untuk melihat, mendengar, kesiapan emosional,
bahasa dan budaya)
b.
Menentukan tingkat pengetahuan klien
sebelumnya.
c.
Menjelaskan proses penyakit (pengertian,
etiologi, tanda dan gejala)
d.
Diskusikan perubahan gaya hidup yang
dapat mencegah atau mengontrol proses penyakit.
e.
Diskusikan tentang terapi atau
perawatan.
8.
Dx VIII : Cemas
berhubungan dengan kurang pengetahuan orang tua atau informasi tentang
penyakit.
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan diharapkan cemas teratasi.
NOC : Anxiety control
Indicator
skala ;
a. Monitor intensitas cemas
b. Menyingkirkan tanda
kecemasan
c. Mencari informasi untuk
mengurangi kecemasan
d. Menggunakan teknik
relaksasi untuk menurunkan kecemasan
Keterangan
skala :
1 = Tidak
pernah dilakukan
2 = Jarang
dilakukan
3 = Kadang
dilakukan
4 = Sering
dilakukan
5
= Selalu dilakukan
NIC : Anciety
Reduction
Intervensi
a. Tenangkan pasien dan
keluarga
b. Berikan informasi pada
pasien dan kelurga tentang diagnosa, prognosis dan tindakan
c. Sediakan aktivitas untuk
menurunkan ketegangan
d. Berusaha memahami keadaan
pasien dan keluarga
e. Temani pasien untuk
mendukung keamanan dan menurunkan rasa takut
f.
Tentukan kemampuan pasien dan kelurga untuk mengambil keputusan
D. EVALUASI
|
No |
Kriteria
hasil |
Indikator
skala |
|
1 |
a.
Mendemonstrasikan peningkatan
ventilasi b.
Oksigen yang adekuat c.
Memelihara kebersihan paru d.
Bebas dari tanda distress pernafasan e.
TTV dalam rentang normal |
1 = Selalu menunjukan 2 = Sering menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Jarang menunjukan 5 = Tidak
pernah menunjukan |
|
2 |
a.
Sistolik dan diastolik dalam batas normal b.
Denyut jantung dalam batas normal c.
Oedem perifer tidak ada d.
Gas darah dalam batas normal |
1 = Ekstrem 2 = Kuat 3 = Ringan 4 = Sedang 5 = Tidak ada gangguan |
|
3 |
a.
Fungsi otot utuh b.
Kulit utuh, warna normal c.
Denyut proximal dan perifer distal kuat dan simetris |
1 = Ekstrem 2 = Berat 3 = Sedang 4 = Ringan 5 = Tidak terganggu |
|
4 |
a.
Asupan nutrisi. b.
Asupan makanan dan cairan. c.
BB meningkat. d.
Kekuatan dapat terkumpul kembali. e.
Stamina |
1 = Tidak pernah
menujukkan 2 = Jarang menunjukkan 3 = Kadang menunjukkan 4 = Sering menunjukkan 5 = Selalu menunjukan |
|
5 |
a. Tekanan
darah normal. b. Denyut
nadi normal. c. Denyut
nadi teraba. d. Tidak
terjadi acites/oedema pada perut. e. Masukan
selama 24 jam seimbang. f. Penegangan
vena jugularis tidak teraba. g. Turgor
kulit baik. |
1 = Tidak pernah menujukkan 2 = Jarang menunjukkan 3 = Kadang menunjukkan 4 = Sering menunjukkan 5 = Selalu menunjukan |
|
6 |
a.
Pola napas dalam rentang normal b.
Warna kulit normal c.
Kemampuan untuk berbicara saat
aktivitas d.
Kebutuhan oksigen aktivitas
terpenuhi |
1 = Selalu menunjukan 2 = Sering menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Jarang menunjukan 5 = Tidak
pernah menunjukan |
|
7 |
a.
Mendeskripsikan proses penyakit b.
Mendeskripsikan factor penyebab c.
Mendeskripsikan factor resiko d.
Mendeskripsikan tanda dan gejala e.
Mendeskripsikan komplikasi |
1 = Tidak pernah dilakukan 2 = Jarang dilakukan 3 = Kadang dilakukan 4 = Sering dilakukan 5 = Selalu dilakukan |
|
8 |
a.
Monitor intensitas cemas b.
Menyingkirkan tanda kecemasan c.
Mencari informasi untuk mengurangi kecemasan d.
Menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan kecemasan |
1 = Tidak pernah dilakukan 2 = Jarang dilakukan 3 = Kadang dilakukan 4 = Sering dilakukan 5 = Selalu dilakukan |
DAFTAR PUSTAKA
A.H Markum, 1991, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, jilid 1,
Jakarta: Fakultas kedokteran UI
Carpenito J.Lynda,2001, Diagnosa Keperawatan,edisi 8,Jakarta: EGC
Colombro
Geraldin C,1998,Pediatric Core Content
At-A- Glance,Lippincotto
Philladelphia: New York
Doengoes,
Marylin E. 2000. Rencana Asuhan Dan
Dokumentasi Keperawatan. Edisi 3
EGC. Jakarta
Ngastiah.1997.Perawatan
Anak Sakit, Jakarta: EGC
Nelson, 1992. Ilmu Kesehatan Anak,Jakarta: EGC
Sacharin,Rosa M, 1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi II, Jakarta: EGC
Samik Wahab, 1996. Kardiologi Anak Nadas, Gadjah Mada
Ununiversity Press, yogyakarta,
Indonesia
Sudigdo & Bambang. 1994, Buku Ajar Kardiologi Anak, Jakarta: IDAI
Sharon,Ennis Axton .1993, Pediatric Care Plans,Cumming Publishig
Company,California
Whaley and
Wong, 1995, Essential of Pediatric
Nursing, Toronto : Cv.Mosby Company
No comments:
Post a Comment